Bawang Putih, Cinderela, Entah di Mana

Bawang Putih seorang gadis pekerja keras. Dalam keluar­ganya ia lah yang mengangkut air, memasak, mencuci baju. Bawang Merah, kakaknya, tinggal perintah. Tinggal angkat telunjuk, Bawang Putih akan tunduk.

Kita semua tahu akhir ceritanya, Bawang Putih bahagia, Bawang Merah kebalikannya. Cerita itu amat populer. Kita juga mengenal Cinderela dalam versi baratnya. Berbagai variasi dan versi telah dibuat. Dalam bentuk lisan, tulisan atau audio-visual. Terakhir, kita melihatnya dalam satu episode Legenda di Trans TV.

Moral ceritanya juga jelas. Siapa yang rajin akan menuai hasil. Ia, Cinderela, berbahagia dengan Pangeran Impiannya. Atau, ia, Bawang Putih, bahagia dengan kehidupan selanjutnya setelah Bawang Merah sadar akan kesalahannya.

Dulu, kita juga mendengar cerita langsung dari nenek/kakek. Membantu orangtua bukan soal bekerja tapi mungkin lebih mendekatkan ibu dengan anak gadisnya sewaktu menumis bawang di dapur atau bisa ngobrol di sawah antara ayah dengan anak laki-lakinya (atau antara mamak dengan keme­nakannya di ranah Minang).

Sayangnya, moral seperti itu —saat ini— hampir tidak berbekas. Jarang kita menemukan pelajar atau siswa yang membantu orang tuanya di dapur.

Apakah karena pelajar tidak begitu lagi “hobi” membatu orangtuanya?

Tidak juga bisa dikatakan begitu. “Kesibukan” pelajar yang membludak membuat pelajar hampir tidak punya waktu untuk memikirkan bagaimana caranya untuk membantu orangtuanya. Setelah pelajaran sekolah mereka mesti les atau kegiatan ekskul. Pulang sudah mendekati magrib. Tenaga yang begitu terkuras setiap hari membuat mereka tidak lagi memikirkan tinggal di rumah pada hari minggu. Lebih cenderung untuk memikirkan kemana mereka akan pergi merilekskan pikiran.

Memang tidak semua pelajar seperti itu. Ada yang lebih senang membantu orang tuanya di rumah makan daripada pergi tak tentu tujuan. Tetapi untuk menjadi Bawang Putih 50 % saja, jelas akan meninggalkan pelajaran. Tidak akan ikut les, ekskul. Tidak ikut dua itu akan menjauhkan mereka dari “aroma” sekolah. Banyak akhirnya memilih untuk menjadi Bawang Putih seutuhnya, dengan akhir cerita belum tentu seindah dan semanis Bawang Putih.

Kasus seorang pelajar yang ngamen setelah pulang sekolah (sembari tetap memakai seragamnya) mengamen di lampu merah sempat menghebohkan. Bahkan ia sempat terancam dikeluarkan dari sekolah. Entah apa jadinya pelajar SD itu kalau beritanya terancam keluar tidak diliput media. Ia mungkin sudah keluar dan tidak lagi memakai seragam sekolahnya ketika mengamen saat lampu merah menyala.

Bawang Putih dan Cinderela tidak pernah dikabarkan belajar. Mereka tidak pernah menghadapi UN. Hanya sayembara. Itu pun persoalan sepatu yang sudah jelas-jelas punya Cinderela.

Tidak ada Bawang Putih hari ini. Andaikan hari ini ia hidup, kita juga tidak tahu apakah ia bisa keluar sebagai pemenang: meraih nilai tertinggi di sekolahnya sembari tetap membantu keluarganya mati-matian. Andaikan ia hidup hari ini, ia akan menghadapi dilema: Sekolah atau keluarga?

Tidak ada Bawang Putih atau Cinderela hari ini yang akan menyelamatkan pelajar dari kebingungan. Menumpuknya tugas, PR, les, telah mengangsurkan mereka ke wilayah “tanpa pernah memikirkan rumah dan keluarga”. Meski ada diktum “membantu orangtua adalah kewajiban seorang anak.” (P’Mails, Edisi 81 Tahun II 08 – 14 April 2007)

Explore posts in the same categories: alas

Comment: