Siapa Tahu Bisa Berbagi Sesuatu

Barack Obama, orang kulit hitam pertama yang kini dijagokan jadi calon presiden Amerika Serikat pada Pemilu 2008, dikenang oleh guru dan teman-temannya di SD Menteng, Jakarta, sebagai murid bertangan kidal yang cerdas.

Anehnya, teman sebangkunya di kelas IV, Oni Padmo Sumasto, menga­ku agak blank dengan Barry –panggilan akrab Barack—. Menurut Oni, yang kini menjadi Wakil Sekjen Ikatan Mobil Indonesia (IMI), meski teman sebangku, dia tak begitu kenal Barry.

“Kami hanya sebatas teman, ten­tang kehidupan pribadinya, saya tidak tahu,” tuturnya pada Tine, mantan guru Oni dan Barry.

Untunglah jejak Barry tidak lenyap begitu saja. Banyak kenangan yang ditinggalkannya di SD Asisi. Meski hitam, “aneh” dan lebih tinggi dibandingkan pelajar lain, Barry banyak disukai teman-temannya. Rupanya ia termasuk anak cowok yang aktif. Baik di pramuka maupun bidang lain. Ia bahkan dijuluki si “Lentik Barry”.

Soal sekolah SD Asisi yang beraroma Islam memang sempat dipermasalahkan. Namun, beberapa gurunya yakin Barry bukan penganut ajaran Muhammad SAW, walau memang terdaftar sebagai Islam.

Akhmad Solikhin, wakil kepala SDN 1 Menteng, tidak yakin Barry beragama Islam. “Dia (Barry) memang terdaftar berstatus Islam, tapi ya juga Kristen,” katanya heran. Tetapi, menurut Tine sang guru, Barry mengikuti pelajaran agama Islam semasa sekolah. Gurunya bernama Maimunah tinggal di daerah Puncak, Kabupaten Cianjur. “Saya ingat dia pernah belajar mengaji,” kata Tine.

Lain lagi dengan Indah. Seorang pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tlogo, Blitar. Ia “terpaksa” berhubungan degan polisi. Gara-gara, teman sebangkunya, Dian Catur Wulaningtyas, menghilang dari peredaran. Dian mengaku ada masalah dengan orang dekatnya.

“Ngomongnya begitu sebelum dia mbolos dari sekolah, yang jelas sepertinya ada beban di benak dia. Itu terakhir yang saya tahu, “ kata Indah. Polisi memang menghubungkannya dengan kelompok Wikan, cs. Sebuah organisasi hitam yang meresahkan masyarakat. Polres Blitar memang telah berhasil meringkus komplotan itu. Sekarang sedang dicari bukti-bukti yang bisa menghubungkan dengan Dian.

***

Oni dan Indah mungkin tidak pernah menyangka akan ada kejadian seperti itu terhadap teman sebangkunya. Tidak semua orang bisa punya teman sebangku calon presiden atau menghilang dari rumah.

Banyak yang tidak sadar teman sebangku merupakan “saudara” di sekolah. Kepada orang yang berada di sebelah itulah semua soal “sekolah” mesti diberitahu pertama kali.

Hampir sepanjang sekolah, mau tidak mau, teman sebangkulah yang lebih dekat dibanding dengan teman yang lain. Orang yang berada di samping kita itulah yang bisa diminta tolong, tempat curhat, bahkan –kalau bisa jangan— tempat minta tolong membuat PR.

Mencari teman sebangku yang ideal memang rada susah. Ada saja ketidakcocokan di antara kita. Tapi bukan alasan untuk tidak mengenali teman sebelah. Siapa orang yang sifatnya persis sama? Meski ada yang kembar identik, tidak semua waktu keduanya bisa bergandengan tangan.

Mengenali teman sebangku akan membuat kita nyaman. Mengerti dengan teman sebangku akan membuat kita bisa berbagi sesuatu, yang tidak bisa kita bagi di rumah atau dengan teman yang lainnya.

Mengenali teman sebangku bukan berarti kita berharap suatu waktu teman itu akan menjadi presiden dan akan menolog. Mungkin bila ada kejadian seperti Indah, teman sebangkulah yang pertama tahu.

Teman sebangku bukan hanya partner sekolah tapi juga partner kehidupan. Karena, siapa tahu… (P’Mails, Edisi 82 Tahun II 15 – 21 April 2007)

Explore posts in the same categories: alas

Comment: