Bumi Sekarat di Hari Ultahnya

—Bukan Tuhan yang mendatangkan kiamat tapi manusialah yang menciptakannya.

29 Agustus 2005, dunia tersentak. Badai Katrina menghantam New Orleans, Amerika Serikat. Menewaskan banyak orang dan menyebabkan kerugian milyaran dolar. Padahal, AS dikenal sebagai penghadang bencana nomor wahid di dunia.

Peristiwa itu disetujui para ilmuwan sebagai puncak apa yang disebut dengan global warming atau pemana­san global. Badai Katrina tidak akan pernah sampai ke New Orleans kecuali ada sesuatu yang salah dengan alam. Dan kesalahan itu memang ada. Berlangsung diam-diam tapi pasti: Bumi dalam ancaman. Ancaman terbesar yang pernah dirasakan oleh umat manusia se­panjang sejarah.

Data-data yang didapat begitu mengerikan. Antartika mencair lebih cepat dari perkiraan. Beberapa daerah kekeringan. Daerah lainnya mengalami banjir. Beberapa spesies burung melakukan migrasi tidak lagi tepat waktu. Beberapa penyakit baru tumbuh.

”Buku pelajaran mesti ditulis ulang karena tidak pernah ada dalam sejarah, Antartika dilanda taufan yang dahsyat,’ ujar Al Gore (Mantan Wakil Presiden AS) dalam An Inconvenient Truth.

Pelelehan es di kutub akan membuat tinggi air meningkat. Itu tidak hanya akan menenggelamkan daratan tetapi juga akan mempercepat putaran bumi. Makin lama bumi akan berputar lebih cepat. Dalam 650 tahun tidak penah bumi menciptakan 300/juta CO2. Di 2005, tercatat peningkatan hasil karbondioksida sebanyak tiga kali lipat. Tidak itu saja, semuanya lebih cepat tiga kali lipat atau lebih. Perubahan musim, gelombang panas, suhu naik beberapa derajat Farenheit, dll. Mungkin inilah kiamat yang disebut-sebut.

Semua diakibatkan gaya hidup manusia. Michael Oppenheimer, Ph.D, seorang profesor di Princeton University, menyimpulkan persoalan pemansaan global ini disebabkan oleh ”gaya hidup” manusia. Dosen Geosciencies and International Affairs ini menyatakan, apapun yang dibuat manusia saat ini, asap knalpot, listrik, menyumbang dalam “menyelimuti” bumi sehingga memanas lebih cepat. Revolusi Industri yang terjadi di Eropa pada abad 17, yang dianggap sebagai masa pencerahan dunia, ternyata ”mensubsidi” penghancuran bumi paling besar.

Protokol Tokyo yang berlangsung 1997 memang menyetujui adanya pengurangan emisi (pembuangan) asap pabrik. Sebanyak 178 negara menyetujui. AS setengah-setengah dalam menang­gapinya. Padahal negara yang berpenduduk 5% dari seluruh penduduk dunia menyumbang pembuangan CO2 ke udara sebanyak 25%. Paling banyak.

Negara Indonesia merupakan paru-paru dunia lewat hutannya. Namun, perusakan hampir terjadi tiap hari. Kita bisa kehilangan puluhan hektar lahan hutan dalam waktu 24 jam. Tak lama lagi, rimba kita akan mengalami kerusakan parah seperti yang terjadi di Amazon.

Merayakan Hari Bumi hari ini, di hari ulang tahunnya, bumi sesungguhnya dalam keadaan sekarat. Demikian adanya kemungkinan itu. Ulang tahun bumi mungkin sedikit menyentak kita. Namun, ada hal yang mengembirakan sejak lilin pertamanya ditiup pada 22 April 1970. Peningkatan orang yang peduli juga meningkat 100% sejak dirayakan 20 juta penduduk AS memperingatinya untuk pertama kali.

Beberapa penanggulangan sudah dicoba untuk dilakukan. Ide pemakaian batubara menjadi solusi paling mungkin dilakukan. Murah dan banyak. Selain itu pemakaian kincir angin juga menjadi jalan keluar cerdas. Negara bagian Portland, AS mungkin merupakan negara yang paling peduli untuk urusan pemanasan global.

Mobil-mobil hampir tidak beremisi lalu lalang di kota itu. Pembakaran pizza dilakukan melalui tungku. Majalah diterbitkan dengan kertas daur ulang. Tanaman sebagai bahan atau pesanan pizza diantar memakai kendaraan yang minim CO2.

Di Indonesia mungkin belum sebanyak itu yang peduli. Media massa juga belum mengekspos besar-besaran masalah ini. Hanya terselip di antara tumpukan berita-berita lain.

Namun, sebenarnya ini tidak boleh berlangsung lebih lama lagi. Allah SWT sudah bilang dalam surat Al-A’araf ayat 56; Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Resikonya jelas, kita, yang hidup saat ini, akan menitipkan ”kiamat” pada anak cucu. (P’Mails, Edisi 83 Tahun II 22 – 28 April 2007)

Explore posts in the same categories: alas

Comment: