Tempat Bermulanya Kehidupan

Fira: Tak kusangka dalam kamar yang sempit ini, masih ada semut yang menjilat-jilat tuan rumah. Ternyata makhluk di sini masih menghargai makhluk lain.

Kirun: Ketika kau keluar dari kamarmu yang sempit ini, maka kau akan berada dalam kamar yang lain. Begitulah seterusnya dan kau tak akan pernah sampai pada keluar yang sebenarnya.

Petikan di atas diambil dari nas­kah drama berjudul “Kamar”. Pe­mentasan yang disutradarai Yusril ini, bercerita bagaimana kehidupan pada sebuah kamar (dan kamar-kamar lainnya). Dalam naskah yang dipentaskan Bumi Teater di Jambi dan Padang itu, diceritakan bagaimana kamar tidak hanya “kamar” (yang ditiduri satu-dua orang atau lebih) tetapi juga kamar dalam pengertian yang luas.

Kamar memang bisa hanya sebagai tempat tidur, tetapi juga bisa bentuk yang lain. Kamar bisa saja Sumatra Barat kalau pondoknya adalah Indonesia. Indonesia juga merupakan hanya sebuah kamar dari sebuah hotel bernama Bumi. Begitu juga Bumi, hanya merupakan sebuah kamar lain dari gedung bernama Galaksi.

Persoalan dalam kamar juga berbeda-beda. Ada yang menginginkan keluar, sibuk mengetik, melahirkan, dll. Semuanya ingin kehendaknya didahulukan. Semuanya campur aduk. Bahkan ada yang tak peduli dengan kehendak orang lain.

Penghuninya juga berbeda-beda. Ada yang di tempati sastrawan, orang biasa, pemimpi, dll. Semuanya ingin menonjolkan kelebihan (sekaligus menampakkan kekurangan) kamar masing-masing.

Pementasan yang dilakukan di Padang dan Jambi itu juga menceritakan bagaimana dalam kamar orang bisa berimajinasi macam-macam. Kemerdekaan, kebebasan, menjadi idaman penghuni kamar. Namun, ketika mendapatkan keinginannya tersebut tercapai, tiba-tiba mereka kembali ke kamarnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, sebagai sebuah kamar tidur, kita juga cenderung mengamar-ngamarkan beberapa hal. Misal, bagi yang suka kerapian, baju-baju akan di “kamar”kan dalam lemari. Untuk cewek, alat mempercantik diri akan di “kamar”kan dalam laci.

Selaiknya kamar memang menarik. Ruangan 3×4 atau 4×6 meter itu (ada yang lebih besar?) merupakan tempat terakhir yang kita kunjungi setelah berpergian seharian. Kita akan menghuninya dengan jangka waktu agak lama. Jadi, apa dan bagaimananya kamar menjadi syarat mutlak.

Kamar bisa menjadi tempat inspirasi kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Segala sesuatunya akan bermula dari kamar. Iyut Fitra, seorang penyair, pernah beranggapan, kamar merupakan tempat cewek merencanakan apa pun, termasuk memutuskan cowok. (Mungkin Iyut sering diputuskan, kali, ya?)

Kamar memang menjadi pribadi. Karakter seseorang akan dilihat bagaimana ia menyusun kamarnya. Walau kadang-kadang kamar diisi lebih dari satu orang.

Yang sering disebut manusia kamar memang sastrawan. Mencari ide mungkin bisa dimana saja. Tetapi ketika menulis­kannya mereka akan masuk kamar. Menguncinya dan tenggelam dalam lautan proses. Bisa sehari, bisa berhari-hari.

Sebuah cerpen Seno Gumira Ajidarma berjudul “Manusia Kamar” dengan detil mengisahkan seseorang yang begitu senang berada dalam kamar. Bahkan untuk kehidupan luar, ia hanya menyisakan pintu anjing untuk koran dan makanan dimasukkan.

Nah, kamar manakah yang kita pilih? (P’Mails, Edisi 84 Tahun II 29 April – 05 Mei 2007)

Explore posts in the same categories: alas

Comment: