2 Mei 2007…
Hari ini spesial, Diari. Aku tak sabar untuk tidak menulis meski malam belum begitu larut sebenarnya. Tidak seperti hari-hari kemarin, aku mesti menunggu bulan separo mengintip di balik langit kelam. Atau rinai yang membasahi bumi. Saat aku sendiri atau mungkin hanya tinggal kau dan aku mengisi pekatnya malam.
Saat ini baru lepas isya. Suara TV masih terdengar keras dari ruang tamu. Aku masih mendengar mahasiswa demo di kantor DPRD sebuah daerah. Tuntutan mereka agak aneh: Biaya pendidikan diturunkan. Agar semua orang bisa sekolah.
“Pemerintah harus mampu menyelenggarakan pendidikan murah dan gratis kepada semua masyarakat. Bukan seperti sekarang ini pendidikan semakin mahal hingga tidak terjangkau rakyat,” kata seorang yang menjadi koordinator aksi demo itu.
Mereka minta supaya RUU yang akan mengkomersilkan pendidikan segera dihapus. Juga mereka menuntut kapitalisme dalam pendidikan tidak dimuncul.
Wah, agak berat bahasa aku hari ini, Diari. Komersil, kapitalisme. Aku sendiri mersa bingung karena tidak merasa sama sekali. Atau tidak boleh merasakannya? Apa yang menutupinya, kalau begitu? Ah.
Tapi ada yang aneh, Diari. Dulu, sewaktu jadi pelajar, apa mereka tidak merasa betapa mahalnya uang sekolah? Atau karena tidak ada yang akan didemokan lagi? Atau, dulu, mereka tidak berani demo karena diancam dikeluarkan dari sekolah?
Demo itu cuma secuil dari banyaknya berita tentang pendidikan saat ini, Diari. Malah ada sekolah dipedalaman sebuah suku tertinggal yang libur sewaktu hari pendidikan ini. Bukan karena mereka tidak mau sekolah, tapi karena sekolah itu sudah ditutup. Ada juga yang mendemo artis karena acaranya tidak mendidik beberapa hari lalu. Itu dari teman-teman aku yang SD, Diari.
Kemudian Pak Menteri Pendidikan sudah menerangkan ketika dengar pendapat dengan DPR bahwa anggaran pendidikan tidak bisa mencapai 20%. Padahal itu sudah ditetapkan oleh UUD, Diari. Tahun ini mesti mencapai sesuai Amandemen Undang-Undang Dasar negara kita.
Dengar-dengar juga, sudah ada yang mengajukan tuntutan ke Mahkamah Konstitusi, Diari. APBN Negara kita mesti memasukkan anggaran pendidikan seperti yang sudah ditetapkan UUD 45.
Kaget, ya, dengan apa yang kutulis hari ini? Aku sudah bilang ini hari agak mengejutkan. Mohon maaf kalau sebelumnya aku hanya mengisi kamu dengan curhat atau cerita cengeng tentang kehidupan pribadiku. Tapi, hari ini, aku sudah tidak tahan lagi. Ada hal lain yang mesti aku bagi. Jangan ditolak tulisanku ini, Diari. Jangan kamu tidak mau lagi kuisi, ya.
Aku lanjutkan. Kamu tahu aku baru selesai UN. Masih deg-degan menunggu hasilnya. Namun, berita-berita di koran yang sering dibawa papa pulang membuat aku lemas. Ternyata masih ada yang curang dalam UN tahun ini. Masih ada soal yang bocor. Masih ada guru yang ngasih jawaban pada siswanya. Untuk apa aku belajar mati-matian selama tiga tahun ini kalau ada yang lulus tanpa mesti susah payah untuk belajar?
Di sebuah daerah di Sumatra, banyak guru yang melapor ke diknas mengadukan perilaku guru yang lainnya, masalah kebocoran ujian itu. Dengan sedih guru yang melapor itu mengatakan betapa rusaknya pendidikan kita.
Sewaktu aku pulang les kemarin sore, aku makan soto di samping tempat les. Dua orang guru tanpa sengaja kelepasan omong. Mereka sepakat, bocornya jawaban ujian tidaklah apa-apa. Karena kalau sampai sekolah (swasta) mereka memiliki jumlah ketidaklulusan yang banyak maka makin ke tahun makin sedikit yang akan masuk ke sekolah tersebut. Kamu juga pasti belum mendengar adanya sekolah yang memalsukan ijazah.
Ironis sekali, Diari. Menyedihkan sekali. Itulah yang membuat aku tidak tahan. Aku mesti menuliskannya padamu.
Aku takut, Diari. Apa jadinya dunia pendidikan kita jika semua unsur pendidikan itu sepertinya ”sepakat” untuk tidak memajukannya. Bahkan, sepertinya ”sepakat” untuk menghancurkannya.
Aku mau tidur, Diari. Berita-berita itu terasa makin keras ke telingaku. Padahal televisi sudah dimatikan mama. Aku cemas. Aku takut. Jangan kau datangkan berita-berita itu dalam tidurku, ya. Biarkan aku tidur nyenyak. Bangunkan aku ketika berita-berita itu sudah tidak ada lagi. Janji, ya. Mau?(P’Mails, Edisi 85 Tahun II 06 – 12 Mei 2007)