Ketika Sepupuku Bertanya
Habis ujian UAS, Sura, sepupuku, datang berkunjung ke rumah. Aku gembira. Ada sepuluh tahun kami tidak bertemu. Aku sebenarnya rindu. Ingat kali terakhir bertemu. Sebuah pengalaman yang tidak pernah bisa dilupakan.
Aku baru tujuh tahun. Begitu pun Sura. Libur sekolah aku berkunjung ke tempatnya. Jauh. Sebuah daerah di pesisir timur. Mungkin karena itu aku jarang ke rumahnya.
Hari terakhir, kami pergi mendaki bukit yang berdampingan dengan pantai. Aku tertawa melihat sebuah bangunan. Dianyam dari bambu. Aku hanya bisa melihat dindingnya. Sesuatu memantik ingatan, ”Wah, kandang ayamnya besar, ya. Pasti ada peternakan,” ujarku riang sambil mengingat gambar sebuah buku. Aku juga ingat kandang ayam yang di rumah dalam ukurannya yang kecil. Sura yang melihat ke arah pandanganku hanya termenung. Lalu, melengah ke arah lain. Aku ikut memandangnya.
Ia terus berjalan. Nampaknya acara hari itu selesai. ”Kenapa?” cobaku sambil memegang tanggannya. Sura menghentak agak keras. Aku kaget. Kami terus berjalan.
Ketika bangunan itu lenyap dari pandangan mata, ”Itu sekolahku,” katanya. Gantian aku yang termenung. ”Maaf,” ujarku segera. Ia memandangku. Lalu, mangut-mangut.
Kini ia hadir di hadapanku. Dalam kamarku. Ia kembali memandang. ”Kandang ayam itu masih ada,” katanya tiba-tiba. Aku tersentak. Tidak tahu apakah harus tertawa mengingat kenangan itu atau trenyuh. Sura tersenyum. Lalu, mengangkat bahu. Aku cepat sadar. Memberikannya senyum dan mengajaknya duduk di bawah.
Begitu menghenyakkan pantat, matanya jelalatan memandang kamarku. Matanya terpaku pada rak buku. ”Kenapa tak datang lagi ke tempatku?” tanyanya. Aku kembali bingung, tidak tahu menjawab apa. ”Jauh, ya?” tebaknya. Ya, mungkin aku akan menjawab itu.
”Tidak ada komik?” tanyanya. Aku menggeleng. ”Kenapa?” Aku menghela nafas sebentar, ”Tidak suka,” jawabku pendek. ”Aku dengar, anak kota lebih suka komik,” tanyanya lagi. ”Mungkin aku tidak termasuk,” jawabku lagi. ”Padahal aku juga suka komik. Ingin baca, malah,” katanya seperti mengacuhkan jawabanku.
”Kenapa tidak lagi datang ke tempatku?” tanyanya lagi. ”Kamu, kenapa tidak berkunjung ke sini?” tanyaku juga. Ia melengah. Lalu, berdiri ke rak buku. Sejenak ia memandangi deretan buku-buku yang tarpajang di situ.
”Kamu enak. Bisa dibelikan buku,” katanya. ”Aku beli sendiri dengan uang tabunganku.” bantahku. ”Andai aku punya uang untuk ditabung,” katanya pelan sembari memperhatikan kembali deretan buku.
”Bagaimana ujianmu?” tanyaku mencoba mengalihkan perhatian. Ia mendengus kecil. ”Untuk apa aku lulus?” jawabnya. Begitu pesimis. ”Kemiskinan tidak menghalangi seseorang untuk belajar,” kataku mencoba menenangkannya, ”Toh, masih ada pelajar yang bapaknya penjual rokok dan supir bajaj yang juara dunia catur,” belaku. ”Kalau begitu aku akan mulai belajar catur,” balasnya. ”Kenapa pesimis begitu?” kejarku.
”Sekolah hanya untuk anak-anak kaya. Anak-anak sepertimu. Aku, teman-temanku, yang ada di sana, tidak punya pilihan. Oke, ada anak di tempatku yang berhasil, tapi berapa orang? Untuk ke sini saja orang tuaku mesti merelakan simpanannya. Aku sebenarnya tidak mau, tapi Ibu masih berharap aku masih melanjutkan sekolah. Apa mungkin?”
”Apanya yang tidak mungkin?” tanyaku heran. Aku yakin ayah mau menyekolahkan Sura kemana pun ia mau. ”Hari pertama ujian UN, guruku menyebutkan jawaban ujian di depan kelas. Hari kedua, beberapa joki dimasukkan ke dalam kelas. Hari ketiga aku dipaksa memberitahu teman-teman jawaban ujian. Aku tidak mau. Tapi aku diancam untuk tidak diluluskan. Aku hampir menangis. Tapi, aku tetap tidak mau. Jika kamu tanya, bagaimana ujianku, begitulah kejadiannya. Jika kamu tanya kenapa aku tidak mungkin melanjutkan sekolah, jawablah sendiri.”
Aku termenung mendengar jawabannya. Pikiranku melayang pada ujian UN yang dilaksanakan sekolahku. Tiba-tiba, aku malu. Kemudian kecewa. Kemudian marah. Kemudian…(Edisi 86 Tahun II 06 – 12 Mei 2007)