Menderu, Mungkin Bercampur Debu
Mana puisi itu? Sebuah SMS membangunkanku dari tidur. Untuk sesaat aku hanya nanar. Aku bingung mesti tau siapa yang mengirimnya. Kucoba menanyakan puisi mana yang dimaksud. Yang kamu tulis di halaman terakhir kumpulan puisi Aku.
Aku kembali berpikir. Aku memang pernah mempunyai kumpulan puisi penyiar terkenal Indonesia. Tapi, fotokopi. Bagaimana lagi, waktu itu benar-benar tak punya duit. Padahal ada bazaar di sekolahku. Buku yang dijual murah-murah.
Nyolong di pustaka juga tidak berani. Bukan tak sanggup, tapi malu luar biasa yang akan diterima tak akan mampu aku tanggungkan.
Akhirnya, dengan bujuk-rayu, aku berhasil membawa buku itu keluar dari pustaka. Untuk itu aku rela dikeluarkan dari sekolah kalau buku itu tidak balik keesokan harinya. Janji itu membuat aku menunggu hasil kopian di tempat temanku, Rizal. Ia pun hanya bisa mengopikan pada malam hari. Pas pelanggannya sudah tidak ada (soalnya, aku juga ngutang). Kopian itu mirip dengan besar buku aslinya. Aku bangga sekali.
Setelah di foto kopi, buku (fotokopi) itu aku bawa kemana-mana. Mungkin kepengen jadi Rangga. Entahlah. Yang jelas, aku betul-betul terpesona dengan karya penyair kelahiran 50 Kota itu.
Karena kekaguman itu pula aku menulis sebuah puisi cinta di halaman terakhir buku kopian itu. Bukan karena aku sedang jatuh cinta, tapi menurutku hampir seluruh puisi Chairil Anwar bercerita tentang cinta. Aku memang pernah melihatkan pada Rani, bekas pacarku. Komentarnya Rani waktu itu, “Aku jatuh cinta pada puisimu tapi tidak bukunya,” ujar Rani sambil membolak-balik halaman buku dengan wajah sinis. Aku termenung.
Pas ulang tahun aku diberi Rani buku yang aku idam-idamkan itu. Girangnya bukan main. Sampai aku menulis sebuah puisi lagi di kulit dalam buku. Tapi hanya sebentar. Saat di rumah, ketika membolak-balik buku, puisi Krawang-Bekasi tidak aku temukan. Aku berkerut kening. Esoknya aku kembali ke pustaka. Aku perlihatkan buku itu pada Pak Agus, pegawai pustaka.
“Ini buku tidak lolos sensor. Jadi tidak layak jual. Mestinya dibakar. Tapi, ada yang nakal malah jual di pasar,” kata Pak Agus.
Dering SMS, membangkitkan aku dari lamunan. Ada nggak? Bagaimana menjawabnya, tanyaku dalam hati. Untuk apa, balasku mengulur waktu. Pengen baca aja. Kukirim lewat sms aja. Nggak mau, aku mau membaca langsung, mungkin setelah itu aku akan melihat bintang berkedip.
Aku tak bisa apa-apa lagi. Jendela kamar kubuka. Mudah-mudahan dari dinginnya malam membuatku pikiranku sedikit segar. Bagaimana menjawabnya, ulangku dalam hati. Aku juga ingat, setelah Rani kuberitahu, ia membelikan aku lagi buku “Aku”. Ketika menerimanya aku langsung memeriksa. Aku menarik nafas lega. Puisinya lengkap. Telah kubolak-balik berkali-kali. Hampir Rani kucium.
Kesenanganku cuma bertahan dua hari. Rizal yang kebetulan melihat buku itu mematahkan kesenanganku. “Buku bajakan kok dibeli,” ujarnya. Aku ternganga. “Beberapa bagian mengabur karena tintanya tidak pekat. Lihat ini, ini dan ini. Lemnya tidak kuat. Bentar lagi pasti lepas,” telaah Rizal. “Kok, kamu tahu.” Sambil senyum ia bilang, “Aku ikut menjualnya.”
Agak sinis, ia bilang, “Jangan beli buku bajakan, DVD bajakan, boleh.” Alasannya, kalau beli buku bajakan akan mematikan penulis Indonesia kalau DVD bajakan akan menghidupkan orang Indonesia. Aku tidak suka dengan kalimat itu karena Rizal yang menyebutkannya. Tapi aku tidak bisa mengelak kebenaran yang diucapkannya pada pernyataan pertama. Gemertak api terekam jelas dalam bola mataku. Buku-buku itu menggeliat seperti berusaha mengelakkan panas.
Gimana? Satu detik, dua detik, tiga… aku mulai menekan-nekan keypads. Ketika kata send kutekan, mataku beralih memandang ke luar lewat jendela. Aku tahu, beberapa kata sedang melayang pada hp Shinta, pacarku. Mudah-mudahan ia mengerti, kataku dalam hati.
Buku itu telah menderu, mungkin bercampur debu. (P’Mails, Edisi 87 Tahun II 20 – 26 Mei 2007)