Berawal Dari Wajah Mengkerut Lila

Badanku baru sejajar dengan pintu kelas ketika Lila menghadang. Tampangnya lumayan seram. Wajahnya mengkerut, bibirnya mengerucut, matanya menyipit. “Dengan begitu,’ kataku sambil menunjuk wajahnya, “kesempatan terakhirmu mendapatkan pacar hilang sudah.”

Aku jelas bercanda. Tak ada yang tak mau dengan Lila. Ia tidak cantik –kalau ukurannya Tamara Blezynski—, tapi jiwamu serasa dibetot kalau berada di dekatnya. Sekali, aku pernah megang-megang tasnya. Ia mendongak. “Kamu bawa magnet, ya?” kataku sembari berusaha memegang tasnya. Ia tersenyum. Aku sadar magnetnya tidak berada dalam tas Donal Bebek milik Lila.

Wajah itu masih mengkerut. Aku segera sadar. Ini sudah lama. Sudah pecah rekor. Berkali-kali ia manyun padaku, tapi tidak pernah selama ini. Wajah cengengesanku lenyap sudah.

“Mana?” tanyanya. Otakku yang biasanya belum sempurna bekerja di pagi hari berusaha mencari folder yang pas dalam otakku. Tapi, aku tidak menemukan. Aku mengembangkan tangan. “Janjinya dua hari yang lalu.” Suara Lila terdengar mulai meninggi. Bagiku terdengar macam sirine ambulan. “Ah, baru dua hari,” kataku coba melemaskan suasana. “Baru dua hari!” Ia berlalu.

Tapi, benar baru dua hari, kan? Walau dalam hati aku ngomel, namun aku tidak bisa membantah. Memang telat dua hari. Tapi, biasanya ia tidak begitu. Aku ingat gelang kesukaannya –gelang yang mengingatkannya pada suatu peristiwa, katanya. Ucapan yang kusambut dengan sentilan cemburu di sudut hati— yang kupinjam sampai putus dua. Tanpa sengaja benda kesayangannya itu tersangkut pada paku di pintu rumah. Ketika potongan itu aku kembalikan ia masih sanggup senyum. Walau, aku tahu pasti keadaan hatinya. Aku mau mengganti, tapi Lila menggelengkan kepala. “Di rumahku masih banyak,” katanya setengah menyindir. Yang membuatku tambah sakit hati, ia malah memberikan sepotong gelang itu padaku. “Supaya kamu ingat,” tambahnya pendek. Ketika aku desak, ingat apa? ia berlalu –pekerjaan berulang yang selalu dilakukannya apabila percakapan kami mendekati akhir—.

Begitu juga dengan barang-barang lain. Ia selalu bisa melengahkan persoalan itu akhirnya. Kenapa Lila begitu tergesa memintanya? tanyaku dalam hati ketika berada di pustaka.

Ibu Mita pegawai pustaka kudengar marah-marah. Hati-hati aku dekati meja Bu Mita. Berada di balik koloni buku seperti ini, memberikanku perlindungan yang baik.

“Maaf?!” Itu suara Bu Mita. “Maaf, katamu! Ini udah kesekian, La! Bagaimana Ibu memaafkanmu.”

La? Lila? Aku berusaha menggeser sebuah buku sepelan mungkin. Ketika ada ruang untuk mata, aku melihat sesosok tubuh membelakangiku. Sosok yang kukenal. Lila. Kepalanya menunduk. Sesekali tangannya menepis sudut mata. “Itu buku langka, La! Tidak satu pun orang yang ibu pinjami…

Aku teringat buku yang berisi catatan-catatan kuno mengenai Sumatra Barat zaman dulu. Buku itu berpindah tangan minggu lalu. Kami berdua memang menyukai sejarah. Hanya saat itu kami berdiskusi tanpa salah seorang berteriak. Ia memang wanti-wanti memintaku mengembalikan buku itu seminggu berikutnya.

Marah-marah itu selesai dalam lima menit. Waktu yang lama. Begitu ia keluar dari pintu, aku mengejarnya. Aku mendapatkannya di lorong sekolah. Mendengar detak sepatu, Lila berhenti. Aku juga berhenti tak jauh dari punggungnya.

“Maaf.” Hanya itu yang sanggup kukeluarkan dari pita suara. Perlahan ia membalikkan badan. Ia menatapku. “Aku benar-benar menyesal.” Ia berjalan perlahan mendekatiku. Tamparan? Pukulan rasanya lebih baik. Atau tendangan.

Aku pasrah. “Aku benar-benar menyesal,” ulangku sepenuh hati. Ia berhenti pada jarak yang cukup. “Dengan begitu,’ katanya sambil menunjuk wajahnya, “kesempatan terakhirmu mendapatkan pacar hilang sudah.”

Aku kaget. Aku menatapnya lebih fokus. Sebuah senyum mengambang di wajah Lila. Tulus. “Kau memaafkanku?” tanyaku tak percaya. “Itulah gunanya teman,” katanya. Aku lega. Sesaat hening. “Teman?” kataku mulai lagi. Setelah memandangku sesaat, ia membalikkan badan. Not again, kataku dalam hati sambil menyusul Lila. (P’Mails, Edisi 88 Tahun II 27 Mei – 02 Juni 2007)

Explore posts in the same categories: alas

Comment: