Menaikkan Aura SMK
SMK lagi naik daun. Sekolah khusus keterampilan pelajar tiba-tiba menjadi primadona. Pemerintah telah menyediakan porsi 60% untuk SMK tak lama lagi. Beberapa acara diadakan untuk meningkatkan energi kemampuan pelajar. Semuanya –sepertinya—menuju satu arah: sedapat mungkin, secepat mungkin, melahirkan pekerja pemula.
Ini mungkin asumsi terlalu awal. Namun, sebuah pertemuan di Carano Room makin menegaskan perkiraan tersebut. Kumpulan pejabat yang khusus dalam bidang SMK dan beberapa kepala sekolah mengadang-gadang lomba antar SMK. Mereka begitu bangga melahirkan pelajar yang mempunyai skill dan siap pakai ketika lepas sekolah nanti.
Seorang Kepala Sekolah tak lepas senyumnya karena berhasil mengirim pelajarnya ke Batam. Diminta oleh sebuah perusahaan elektronik. Di gaji –menurutnya—besar. kita tidak tahu ukuran besarnya. Apalagi hidup di Batam, gaji jutaan hampir sama dengan ratusan di di Padang.
Mesti diketahui juga, pemerintah melakukan hal itu melihat beberapa hal. Pertama, banyak pelajar yang tamat SMK tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Ruang mereka untuk melanjutkan ke perguruan tinggi terbatas. Jurusan teknik yang menjadi idola anak SMK berbanding tidak seimbang dengan setiap perguruan tinggi. Ada pun, tidak mencukupi untuk seluruh pelajar SMK.
Akhirnya sebagian besar mereka terkatung-katung. Menambah jumlah penggangguran yang sebenarnya sudah sesak. Di samping, pemerintah juga tidak punya cukup punya ruang untuk menampung tuna kerja itu. Sepertinya pemerintah sudah habis akal untuk menciptakan lapangan kerja.
Kedua, dengan keadaan seperti itu, solusi mesti dicarikan segera. Maka selama mereka masih di SMK, kemampuan mereka mesti ditingkatkan secepat mungkin. Mereka di up-grade bahkan di luar kemampuan mereka. Semuanya dilakukan demi mencukupi kebutuhan standar luar negeri.
Kita tidak tahu, pemberesan administarasi yang dibilang pejabat tadi apakah termasuk mengatasi soal umur. Biasanya, apapun akan dilakukan. Dalam olahraga misalnya, untuk memenangkan sebuah pertandingan dalam kelompok umur, yang lewat usia akan ditukar akte kelahirannya demi mencapai kejayaan semu. mungkin hal ini akan menjadi tarik ulur sendiri. Kalau ketahuan perjanjian akan batal. namun, kalau hanya mengirimkan lebih kurang 50 orang jelas tidak akan memuaskan. Mudah-mudahan ini tidak terjadi.
Soal yang lebih besar adalah kesiapan. Apakah pelajar kita telah bisa bekerja dengan budaya kerja negeri luar. Jika hanya persoalan kemampuan yang ditingkatkan tanpa mental budaya maka kejadian akan sama. belum lagi persoalan bahasa. tidak rahasia umum, perhatian terhadap bahasa (terutama bahasa Inggris) amatlah rendah. Ada pun Bahasa Inggris yang dipelajari sekarang diupayakan hanya untuk berkomunikasi.
Belum lagi persoalan budaya. Seorang teman saya yang tamat Bahasa Jepang di sebuah universitas swasta mengaku pasrah menerima persyaratan dari perusahaan tempat ia bekerja. “Ada item yang melarang saya untuk puasa,” katanya. Ia dikontrak setahun. Mau tidak mau ia mesti mengikuti. Akhirnya, ia bawa pulang uang yang banyak. Sekarang bekerja membuka usaha sendiri. Saya tidak tahu bagaimana ia membayar puasanya yang (pasti!) batal itu.
Selanjutnya, menjadikan para pelajar SMK pekerja prematur, tidaklah jalan keluar dalam pendidikan. Selain melahirkan pekerja yang hanya mengandalkan skill, tanpa mendidik intelektual mereka, sama saja akan mengirimkan robot. Mereka hanya baut atau sekrup teknologi.
Banyak alasan yang dimunculkan jika mereka gagal bekerja di luar negeri. Toh, kalau tidak bisa bekerja di luar negeri, mereka akan bisa membuat pekerjaan sendiri. Kalau lulusan STM akan buka bengkel mobil atau radio. Yang kejuruan masak akan bisa buka restoran sendiri. Kalau tidak bisa, mereka akan magang dulu.
Satu sisi, saya senang perhatian pemerintah terhadap melonjak begitu drastis. Sekolah yang selama ini dianggap anak tiri sudah berubah status menjadi anak kesayangan. Namun, yang perlu diinap-menungkan adalah benarkah ini jalan keluar menaikkan aura SMK? (P’Mails, Edisi 90 Tahun II 10 – 16 Juni 2007)