Memilih
Adakah kebebasan itu? Mungkin hanya pada saat kita memilih. Tapi ketika pilihan sudah dijatuhkan maka siaplah dengan fitur yang ada dalam pilihan itu.
Memilih jelas bukan pekerjaan mudah. Karena memilih kita punya pilihan. Akan lebih mudah rasanya apabila tidak ada pilihan.
Untuk urusan ini, yang paling mudah mungkin Nabi Adam. Ketika “disemayamkan” di bumi, nabi pertama di alam raya ini tidak bisa memilih. Hanya Hawa yang setara dengan intelektualitasnya yang disediakan Allah. Akibatnya, Adam tidak punya pilihan.
Sejak saat itu, —mungkin— pilihan-pilihan yang ada makin sulit. Sampai sekarang. Untuk menentukan apakah yang diambil setelah lulus, tetaplah menjadi dilema. Setidaknya setiap pelajar yang lulus ujian mempunyai dua pilihan: Kuliah atau tidak. Kalau diperbesar pilihannya menjadi tiga, Kuliah (di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) atau Perguruan Tinggi Negeri (PTN)) atau tidak kuliah sama sekali.
Dalam memilih ada kebijaksanaan. Jangan hanya karena “sesuatu” kita akhirnya memilih. Dalam pilihan terkandung dua hal, baik dan buruk. Pilihan akan menjadi baik kalau menyadari konsekuensinya. Pilihan akan menjadi buruk akalu hanya sekedar terjun tanpa mengenali wilayah yang dimasuki.
Di sini pentingnya memilih. Kita diajarkan merenung. Menimbangnya dari segala sisi. Melebihka dan mengurangkan resiko. Menyusunnya dalam hati sehingga akan memuncratkan pilihan yang mesti kita patuhi. Sekali memilih kita juga yang terikat akan pilihan-pilihan itu.
Memilih PTN misalnya. Sebaiknya ada kemungkinan, saat ini tidak menjadi jaminan mutlak selepas merengkuh gelar sarjana semua akan lebih mudah. Pekerjaan di abad digital saat ini tidak lagi melihat ijazah semata. Tapi lebih kepada kemampuan seorang. Di perguruan paling bobrok sekali pun apabila ia jenius, pekerjaanlah yang memilihnya.
Jadi lebih baik di PTS?
Bias jadi. Kuliah di PTS yang bermutu tidak ada salahnya. Soalnya menyangkut biaya. Tapi, kuliah di PTN maupun di PTS sekarang beda tipis. Apalagi ekstensi yang merebak di PTN seluruh Indonesia, membuat PTS dan PTN setipis kulit ari.
Yang akan diinap-menungkan, apabila kuliah di PTS adalah apakah biaya tidak menjadi kendala? Apakah PTS yang dipilih bisa menjadikan kita manusia yang penuh pengetahuan?
Jadi lebih baik tidak kuliah?
Pada satu sisi, ini mungkin pilihan yang bijaksana. Biaya yang tidak mencukupi atau malas melihat “kelakuan” mahasiswa atau tidak percaya dengan pendidikan Indonesia akan mengiring kita untuk melupakan PTS atau PTN. Ucapan yang pantas welcome to adult world.
Tidak bekerja akan membuat kita “lepas” dari kendali orangtua. Kitalah yang menentukan masa depan sendiri. Kita lah yang menjadi “raja” bagai wilayah yang akan kita masuki. Namun, siapkah kita dengan pandangan orang lain yang miring? Kalau kamu adalah orang yang cuek, lanjut. Tapi, kalau tak kuat mental, pikirkan lagi.
Klisenya, memang tergantung pada diri masing-masing. Yang dibutuhkan adalah keberanian memilih. Keberanian untuk mengambil keputusan.
Namun, tidak semua orang berani memilih. Mungkin karena tidak semua orang berani untuk merenung. Mungkin karena merenung adalah persoalan berpikir. Dan berpikir –saat ini— tidak mengasyikkan. Kurang cool. Lebih baik ikuti apa yang ada. Apa saran orang tua.
Adam memang tidak memilih ketika menjadikan Hawa pendamping hidup, tapi Adam memilih makan buah kuldi, bukan karena ia dirayu Hawa tapi karena ia manusia. Independen. Mandiri. Tidak bisa dipegaruhi. Punya keputusan tegas. Makhluk yang diciptakan secara sempurna. Sikap yang diberikan Allah secara mutlak pada diri manusia. Ciptaannya yang paling utuh dengan segala kekurangan dan kelebihannya. (P’Mails, Edisi 91 Tahun II 17 - 23 Juni 2007)