Bu Daya dan Siti di Suatu Hari
Sore itu, gerimis mulai turun. Bu Daya mempererat genggaman tangannya pada Siti, anaknya. Tangan satu lagi dipayungkan ke kepala. Keduanya memasuki tenda panjang. Berbentuk lorong.
Begitu kaki pertama terpancang di dalam, udara dingin mneyergap Siti. Anak berumur tujuh tahun itu mendekapkan tangannya di dada. Ia melirik ibunya. “Jalan langsung biar sedikit panas,” ujar Bu Daya sambil tersenyum.
Siti yang kurang senang mengangguk. Sejak dari rumah ia sudah tidak setuju dengan ajakan ibunya. Sekolah memang libur. Siti juga sudah balik dari kampung di Kayutanam. Sudah pula kenyang mencicipi durian. Bermain-main dengan kakek yang sudah lama tidak dikunjunginya. Libur yang hampir sempurna kali ini. Hampir. Kalau ibu tidak mengajaknya ke sini.
Siti menundukkan kepalanya. Memperlihatkan protesnya. Bu Daya menyempatkan mengelus kepalanya. Siti menggeleng. Sekaligus ingin membuyarkan percakapan sebelum sampai di tempat ini. “Ngapain sih, Bu?” ujar Siti. “Lho, itu penting untuk pengetahuanmu,” balas Bu Daya. “Kan bisa didapat dari buku,” tahan Siti. “Tidak semuanya terdapat dalam buku. Ayolah,” ajak Ibu lagi. Siti memandang ibunya. Memastikan ibunya tidak main-main. Tidak pernah ia di ajak…kemana? Pekan Budaya? Apa itu? Di mana? Apa saja isinya? Pertanyaan itu berganti-gantian muncul di otaknya. Seperti tulisan yang timbul tenggelam. Teman-temannya yang sudah mengunjungi berbisik jadul ke telinganya. Sedikit kernyit plus angkat bahu.
Siti mencoba melirik. Ia melihat orang menjual pakaian. Ada nama sebuah kabupaten di bagian atas. Siti mengernyit. Mirip temannya.
Mereka berdua terus berjalan di antara kerumunan. Siti masih menunduk di belakang ibunya. Ia takut menegadah. Takut terlihat oleh orang-orang yang dikenalnya.
Akhirnya mereka keluar dari tenda panjang itu. Seulas senyum merekah di bibir Siti. Keresahannya akan segera usai.
Bu Daya berbelok melintasi jalan. Ketika memasuki sebuah kompleks bangunan, Siti kembali mengernyit. Belum usai rupanya keluh Siti dalam hati. Dengan melirik-lirik dari tundukannya, hamparan orang jualan kembali terpampang di matanya. Ada beberapa stand yang ia tak mengerti, kenapa ada di sini? Katanya pekan budaya? Kenapa barang-barang ini ada?
“Ada apa?” tanya Bu Daya. Siti yang udah manyun duluan menggelengkan kepala. Ia tak sanggup menanyakan. Bisa-bisa lebih lama mereka berada di sini. Ia mau pulang, kalau bisa. Secepatnya.
Mereka terus berjalan. Ujung langit terlihat oleh Siti. Laut, pikirnya dalam hati. Hatinya kembali gembira. Mudah-mudahan kali ini mereka bisa keluar dari “neraka” ini.
Bu Daya memasuki sebuah café. Siti mulai senang. Ia minta nasi goreng sama jus mangga (tanpa es). Bu Daya makan soto ditemani air putih.
Siti mencondongkannya wajah ke laut beberapa kali. Ia ingin ibunya tahu kemana ia akan pergi kali ini. Suatu saat, ia kembali mencondongkan badannya sam,bil menyeruput jus mangga. “Kenapa?” tanya Bu Daya. “Pantai kayaknya indah sore ini, Bu,” rayu Siti. Ibu tersenyum. Siti seperti dapat sinyal.
Selesai makan, Bu Daya membawa Siti kembali keluar kompleks. Tapi, tidak ke pantai. Siti merengut. “Satu lagi. Setelah itu terserah Siti mau kemana,” kata Bu Daya. Siti berhenti, seperti menghitung. “Cepat, ya, Bu.” Ibunya mengangguk.
Sesampai di luar kompleks, Bu Daya kembali menyeberang. Lalu, memasuki kompleks bangunan yang lain.
Mula-mulanya Siti tetap menunduk. Tapi, beberapa gambar mulai membuat kepalanya tegak. Sesekali ia meremas tangan Ibunya aga berhenti. Bu Daya dengan sabar menjelaskan satu persatu mengenai gambar yang terpampang.
Pada satu gambar, Ibunya sejenak berhenti. Ia memandang Siti, “Ini gambar pesilat zaman lalu. Dan…ini Kakekmu.”
Siti termenung. Ia memperhatikan foto itu lebih dekat. Memang itu kakeknya. Walau sudah tua, raut di wajah itu tidak akan dilupakan Siti. Entah kenapa, Siti tiba-tiba ingin berlama-lama di situ. (P’Mails, Edisi 95 Tahun II 08 – 14 Juli 2007)