Keajaiban itu Tak (akan) Pernah Datang

Negeri ini memang (sudah ditakdirkan) tidak akan pernah didatangi keajaiban. Ketika melawan Republik Korea (dulu Korea Selatan), 85 ribu lebih penonton memberikan dukungan. Di antaranya Presiden dan Nyonya duduk di tribun VIP. Hanya hasil seri yang dibutuhkan. Bahrain rasanya akan sulit melibas Arab Saudi.

Permainan kesebelasan Indonesia sampai babak pertama, tak kunjung membaik. Menit 30, petaka itu datang. Kim Jung Woo mengusir Ma­laikat Keberuntungan dari stadion Gelora Sukarno, Jakarta, lewat ten­dangan dari luar kotak pinalti. Bola berbelok setelah sempat menyentuh dada bek M. Ridwan. Arahnya yang berbelok membuat penjaga gawang, Markus, terkecoh..

Babak kedua, ada peningkatan. Sedikit. Gemuruh Senayan belum mampu meningkatkan motivasi pemain Indonesia. Dua pertandingan yang menguras tenaga benar-benar meng­habiskan energi. Ponaryo Astaman, dkk, belum sepenuhnya bisa menyerap energi penonton bak pemain teater yang bisa main dua jam di atas panggung tanpa merasa kelelahan.

Tapi, ini kandang kita. Inilah saat, harapan bisa dilambungkan setinggi-tingginya. Ini momen, sejarah akan meruap ke angkasa dan tertulis: Indonesia lolos ke babak kedua untuk pertama kalinya.

Semua telah memberikan segalanya. Penonton Indoensia telah memberikan harapan bahwa bangsa ini punya rasa terhadap peradaban. Penonton Indonesia mampu memperlihatkan bahwa bangsa ini sudah memasuki era modern. Mereka tidak rusuh lagi. Tidak berteriak-teriak lagi atau menghoyak-hoyak pagar pembatas. Dukungan penuh tetap diberikan meski kita kalah melawan Arab Saudi.

Namun, sebelum sampai ke puncak, lagi-lagi kita mesti belajar apa itu kekalahan. Apa itu menerima kekalahan. Dan kita sukses melewatinya. Tidak ada kerusuhan. Tidak keributan. Semua pulang dengan aman. Ada wajah kesal tapi tidak melampiaskan kemana-mana. Sampai sekarang, tidak terdengar ada motor yang terbakar atau toko yang ambruk.

***

Apa hubungannya dengan MOS?

 

Mungkin begini. Kita mulai dari pertanyaan, apa yang baru dari suasana tahun ajaran baru? Mungkin hanya pertukaran sekian puluh atau ratus wajah baru. Selebihnya? Ada yang ajaib? Saya rasa tidak ada. MOS juga begitu. Masih dijadikan mangkalnya pelampiasan nafsu kekerasan senior pada yuniornya. Sebuah ajaran yang “dilegalkan” dalam pendidikan yang akhirnya muncrat kemana-mana. IPDN mungkin menjadi mata rantai terakhir dari kekerasan MOS.

Ada beberapa sekolah yang melenturkannya. Di Jawa Timur ada sekolah yang MOS-nya lebih diarahkan pada penggalian kreativitas pelajar. Mereka diajarkan menjadi kompetitor yang sportif. Meraih kemenangan dengan aliran keringat yang menganak sungai. Berjuang sampai titik peluh terakhir. “Makan tanah” atau “makan rumput” demi kejayaan.

Memang hanya sedikit yang baru. Selebihnya? Tercium atau tidak dari hidung wartawan, kekerasan dalam skala kecil tetap terjadi. Apa gunanya botol bir dikumpulkan? Apa gunanya mereka memakai pita warna hijau atau biru? Adakah mereka diajar untuk masuk partai tertentu? Kenapa pelajar baru mesti mengumpulkan tandatangan seniornya? Mengapa mesti ada hukuman kalau sedikit mengumpulkan tanda tangan senior?

Orientasi yang akan digapai hanya akan tergantung di awan tinggi. Pembodohanlah yang akan terlihat. Setiap pelajar baru akan dihadapkan pada pembodohan yang sama.

Sekarang kita hanya bisa berharap pihak sekolah kembali berpikir ulang bagaimana menyelenggarakan MOS. Ada banyak cara. Ada banyak jalan. Tinggal pilih.

Tapi tidak ada yang ajaib pada MOS tahun ini. Yang mampu merubah muka pendidikan kita lebih mengalir, enjoy dan segar. Kita bisa meniru tim sepak bola kita kali ini. Mereka kalah, tapi dengan dagu terangkat. Mereka menunjukkan apa itu perjuangan.

Negeri ini memang (sudah ditakdirkan) tidak akan pernah didatangi keajaiban. Jadi berusahalah merubahnya. (P’Mails, Edisi 96 Tahun II 22 – 28 Juli 2007)

Explore posts in the same categories: alas

Comment: