Ketika Lusi Menghilang
Aku kembali celingukan mencari Lusi. Sudah beberapa hari belakangan ini aku tidak menemukan wajah bangir itu setiap istirahat. Biasanya kami bertemu di kantin atau kafe sekolah. Jika berbeda tempat, hp-ku selalu bergetar lima menit sebelum istirahat. Dari pesan pendek yang dikirimnya kami selalu janjian.
Sekolah seluas 1,5 hektar itu seperti menyembunyikannya dariku. Kemarin kutanya kemana ia menghilang. Ia hanya tersenyum. Walau agak masam. Hati ini berdetak, apa ada salah yang kuperbuat. Kucurigai ia berada di pustaka. Tak kutemukan ia dibalik “bangunan-bangunan” buku. Kucari di labor. Tabung-tabung itu tak pernah bisa menjawab. Kuingat lokasi-lokasi yang mungkin didatangi Lusi tapi tetap nihil. Bahkan kucoba untuk mencari di lokasi yang tidak mungkin didatanginya, tapi pencarianku serasa mustahil.
Sepulang sekolah ia kutunggu. Dengan senyum –tanpa masam—, ia menghampiriku. Tak ada ia ingin mengindar dariku. Layaknya seperti hari-hari kemarin, ia tetap mau diajak bicara kecuali menghilangnya ia sewaktu istirahat.
Dua hari lalu pernah kutanya, jawabannya membuatku termenung, “Kamu hanya kehilanganku lima belas menit. Terlalu banyak?” Ia benar. Tapi ia juga tahu bukan itu persoalannya. Dengan begitu, seperempat jam itu memang banyak. Terlalu lama malah.
Aku mencoba tidak menyinggung “wilayah” itu. Takut hubunganku dengannya menjadi punya spasi. Membangun hubungan dengan Lusi tidaklah segampang ia memutuskannya. Lusi anak yang pendiam. Malah cenderung introvert. Aku mesti meruntuhkan tembok tinggi –yang entah kenapa dibuat Lusi— ketika mendekatinya. Aku mesti menghancurkannya berkeping-keping. Lalu, kubuang jauh-jauh agar ia tidak bisa membangunnya kembali seperti yang dilakukannya kepada yang lain.
Untuk itu aku mesti mengalah. Banyak (Sesuatu yang sebenarnya enggan aku lakukan. Aku sepantaran dengannya. Keegoisanku masih berada di puncak. Namun, keegoisan Lusi berada di atasku. Keegoisanku tidak berlaku untuknya). Untuk itu aku juga berusaha menjaganya. Selalu (Sesuatu yang juga enggan kulakukan. Mungkin dengan alasan yang sama). Entah mengapa aku suka berteman dengannya. Dengannya aku menemukan dunia yang beda. Unik. Membuatku betah berlama-lama di sana.
Aku ingat bagaimana ia mendiamkan Mella berminggu-minggu. Mella sudah minta maaf beribu-ribu kali. Entah berapa kali memohon hanya karena melihat buku catatan kimianya.
Dalam perjalanan pulang, terpikir olehku untuk mengikutinya esok hari. Namun, seleraku terbang untuk melakukan itu. Otomatis ia akan mengambil puing-puing tembok yang telah kucampakkan. Kemana pun aku melemparnya. Kemana pun aku mencoba membuangnya. Aku menghela nafas.
***
Istirahat, tiba-tiba menjadi saat yang terasa pepat. Tidak bertemu Lusi dengan cara begini sungguh menyakitkan. Tidak ada nada getar belakangan ini. Ketika itu pula Kira datang dan membawa berita: Ia melihat Lusi dan Fira ke ruang (kami menyebutnya) X (ruang tempat buku khusus). “Sudah seminggu ini,” tambah teman sebangkuku itu. Aku tidak sampai mencarinya ke sana. Aku ingat itu. Pantas tidak kutemukan. Tidak sembarang orang bisa masuk ke sana. Ada apa? mestinya menjadi pertanyaan pertamaku. Tapi, segumpal kabut menghalangi otak ini. Kesabaranku sudah menyinggung titik didih.
Segera saja aku angkat badan dan selekas mungkin ke pustaka. Aku mempertaruhkan banyak hal untuk itu. Teriakan guru pustaka –mungkin laporan yang akan membuatku dapat stempel negatif— dan lebih dari itu: Pertemananku dengan Lusi.
Pintu terbuka tergesa. Aku mengerutkan kening. Lusi dan Fira sedang mengemasi sesuatu. Bekal? Yang benar?
Lusi mendatangiku. “Aku ingin memberitahu. Hari ini. Sepulang sekolah nanti.” Tanganku masih memegang gagang pintu. “Maaf. Aku sendiri masih belum yakin. Tapi, Fira meyakinkanku. Aku bisa berhemat. Aku punya mimpi seluruh pelajar melakukannya. Dan suatu hari akan ada “satu hari tanpa jajan”. Bayangkan apa yang bisa kita lakukan.” Perlahan genggamanku mengendur. “Aku ingin mengajakmu. Sepulang sekolah nanti. Mau?” (P’Mails, Edisi 97 Tahun II 29 Juli – 04 Agustus 2007)