The K
Rini sedang mengaduk-aduk isi tasnya. Tidak puas, ia mengeluarkannnya satu-persatu. Sesekali, ia melirik ke bawah atau ke laci meja. Sudah tiga kali ia melakukannya. Tiba-tiba, ia menghempaskan tasnya. Ia mengatupkan mata sesaat. Dua bulir air mata bergulir dari sudut matanya.
Aku melihat dari jendela kelas hanya bisa menunduk sedih. Aku tahu apa yang membuat Rini seperti itu. Tanganku masih memijit-mijit pena bergambar Harry Potter. Tongkat Harry yang sedang mengarah ke langit berpendaran. Aku masih ingat, pena seperti ini masih ada satu lagi di rumahku.
Kulihat, Rini akhirnya menyerah. Ia menelungkupkan wajahnya ke meja. Seseorang mendatanginya. “The K!” teriak Rini.
***
The K datang saat tahun ajaran mulai. Tidak berwujud. Tidak berbau. Juga tidak tahu kapan datangnya. Satu-dua kali masih diacuhkan. Namun, ketika Sasha kehilangan gantungan kunci Spiderman yang dibelikan Bapaknya di Singapura hilang, barulah teman-teman sekelas sadar. Sasha tidak mungkin mengada-ada. Apalagi bohong. Ia memang kaya. Bapaknya. Ia memang diantar Yaris ke sekolah tiap hari. Punya bapaknya. Kesehariannya bertolak belakang dengan kemewahan yang dipunyainya. Tidak ada yang tidak pernah tersentuh bantuannya. Pokoknya, Sasha oke.
Hari itu, teman-teman sibuk membantu Sasha mencari gantungan kunci itu. Semua tas diperiksa. Tapi, barang itu telah raib, entah bagaimana caranya. Sasha mengeluh tinggi. pantas saja. Anak itu telaten. Ia selalu menghargai barang-barangnya.
Kelas makin tersentak ketika buku Harry Potter Deathly Hollows versi Inggris punya Rhino hilang. Padahal ia baru membelinya dengan uang sakunya sendiri. Berbulan-bulan ia menabung untuk mendapatkan buku itu. Ia rela tidak membeli buku apapun selama ia menabung. Bahkan, ia rela bawa bekal ke sekolah menahan ejekan teman-teman cowoknya. “Aku baru membaca bab I,” keluh Rhino. Siapapun tahu ia selalu berbuih-buih ketika membicarakan penyihir beranjak dewasa itu.
Sejak itulah istilah The K muncul di antara kami. Rhino juga yang ngasih istilah. K singkatan dari Kleptomania. Pengutil barang. Kata Rhino, sebenarnya ini nama penyakit. Orang tersebut tidak punya niat untuk mencuri. Namun, selalu ada dorongan yang kuat untuk melakukannya. Apalagi melihat “sesuatu” yang tidak ia punyai. Kenapa nama itu? tanyaku. Karenaorangnya misterius, jadi namanya juga dibuat agak misterius, jawab Rhino. Ah.
Kehilangan-kehilangan berlanjut. Rhino mendatangiku untuk menyusun strategi. Mulanya aku kaget. Rhino bilang, “Kamu ketua kelas. Tidak mungkin melakukannya. Lagipula, siapa lagi yang mesti kupercaya?”
Kami berdua membeli buku komik Spiderman. Buku itu bagus sekali. Buku keluaran terbaru. Tanganku saja gatal melihatnya. Oleh Rhino, buku itu diolesi oleh cairan pada sampul buku. Siapapun yang memegang buku itu akan meninggalkan bekas di tangannya.
Aku dan Rhino berkoar-koar di dalam kelas betapa buku itu hanya sedikit orang yang punya. Memang di toko buku manapun tidak ada orang yang menjualnya.
Perangkap kami tidak berhasil, malah barang Sisi, Amy, Tika dan Mella yang hilang. Kami hanya bisa saling berpandangan.
Aku kemudian melapor pada wali kelas. Meskipun sudah diancam akan dilaporkan ke polisi, pekikan-pekikan kehilangan terus bergema dari hari ke hari. Sampai sekarang…
***
Rini memandang Rhino sambil sesungukan. Aku masih berdiri di balik jendelakelas. “Apa yang harus kukatakan pada mama. Aku sudah berjanji akan menjaganya. Bahkan kalau hilang, aku rela uang jajanku dipotong. Bagaimana, No?” Rhino mengeluh, “Kamu yakin tidak salah taruh,” uajrnya dengan nada separuh putus asa. “Tidak mungkin,” geleng Rini, “Pena itu selalu kubawa kemana pergi. Cuma sekali ini aku lupa. Menaruhnya dalam task arena bergegas ke kantor guru.” Rhino terhenyak di kursi.
Di balik jendela, Tapak Tanganku berpeluh menggenggam Harry Potter yang terus berpendar. Tolong…( P’Mails, Edisi 98 Tahun II 05 – 11 Agustus 2007)
Juni 8, 2009 at 5:17 am
Wah kok sama namanya ya dengan novelku “The K”
Juni 8, 2009 at 5:21 am
Wah kok sama ya namanya dengan ini maksudku, Novel “The K” yang baru terbit.
Juni 12, 2009 at 4:25 am
gitu, ya? ceritanya sama, nggak?