Harus Aku?

“KENAPA AKU?” tanya Meike kepada beberapa wajah yang berada di hadapannya. Wajah-wajah itu, sesaat, hanya saling berpandangan. Kemudian, wajah bulat mirip bayi menandang Meike, “Kami kira hanya kamu yang bisa menandinginya,” kata Kodri, pemilik wajah itu. “Kira…” ulang Meike, “Kenapa?”

 “Oh, Mei, kami tidak bisa membayangkan kalau Harun yang menjadi ketos. Kami…” sesaat Kodri memandang teman-teman yang lain. Semuanya mengangguk, “tidak bisa jadi apa sekolah ini nantinya,” ujar Kodri dengan wajah memelas. “Bagian yang mana? Aku tidak melihat kesalahan dalam program-programnya,” ujar Meike. “Mei, tidak boleh kemping, perpisahan ditentukan acaranya, tidak boleh dance, cheersleader, apa itu tidak eksalahan.” Kali ini Riska, menggenggam sehelai kertas yang beberapa bagian tersobek ujungnya. Meike yakin, itu buah kemarahan ketua penari sorak itu.0

Meike mulai meraba kemana arah pembicaraan teman-temannya. Anak Cerdas kelas dua IPA itu tahu mau teman-temannya. Namun, kali ini Meike menghadapi tembok besar. Ia tahu, majelis guru dan pejabat sekolah berada di belakang ketua kelas dua IPS itu.

Sesaat, Meike mengukur situasi. Ia pandangi teman-temannya. “Seberapa serius kalian mau menjadikanku ketos?” tanyanya pada Kodri. “Kami serius Mei. Serius.” Jawab teman SMP Meike itu. “Kod, itu bukan jawaban yang kuinginkan.”

Kodri ternganga sedetik. Ia membuka buku catatannya dengan segera, “Mei, maksudku, maksud kami, kami telah menghimpun orang-orang yang akan ikut kampanyemu. Riska juga sudah menyiapkan yel-yel untukmu. Bahkan dalam adu program nanti, ia juga telah menyiapkan sorakan asyik…menurutku. Aku sudah dengar soalnya. Andri sudah siap dengan desain kampanyemu. Aku juga sudah baca. Menarik. Mmm…menurutku…” Kodri masih mencari sesuatu dalam buku catatannya. Meike memandangi teman-teman yang lainnya.

“Aku ikut,” kata Meike sambil melangkahkan kakinya keluar kantin. Ia meninggalkan senyum di beberapa wajah.
***
Di rumahnya Meike mengutak-atik komputer. Ia menyiapkan pidato programnya. Ketika tombol titik ditekannya, ia menyandarkan punggung. Pidato itu tidak lebih dari tiga baris.

Meike tahu ia tidak akan menang. Dari awal ia menerima amanat teman-temannya hanya untuk menyenangkan hati teman-temannya.

Ia sebenarnya suka Harun yang jadi ketua. Tidak ada yang pantas menjadi ketua selain teman sebangkunya kelas satu itu. Selain pintar, Harun juga paham organisasi. Ia juga punya aura untuk bisa menaklukkan teman-temannya. Dengan logika bukan dengan arogansi. Dan yang lebih penting menurut Meike, Harun mengerti dengan psikologi teman-temannya. Bagi Meike, menjadi ketua hal itulah yang penting.

Jadi, ia mengerti betul kemampuan Harun. Meike tahu, tanpa didukung mejelis guru pun, Harun akan menang. Semua mendukungnya. Teman-teman Meike yang di kantin tadi hanya tidak suka pada beberapa program Harun. Menurut Meike, untuk hal itu Harun juga sedikit kelewatan walaupun niatnya untuk “membersihakan” sekolah dari hal-hal negatif juga didukung Meike. Tapi menurutnya, tidak secepat itu. Banyak betul “pertempuran” melelahkan yang akan dilalui. Dan membuang energi, menurut Meike. Ia akan telpon Harun untuk hal itu.

Untuk menghormati teman-temannya nanti, ia akan menolak jabatan apapun yang ditawarkan harun. Harun sudah mmberikan sinyal beberapa ahri yang lalu. Meike sudah siapkan jawabannya, “aku mendaftar untuk jadi ketua bukan yang lain.”

Dibacanya kembali apa yang terketik di komputer. Saya tidak menganjurkan untuk memilih saya. Tapi pilihlah sesuai hati nurani teman-teman semua. Jika saya tidak sesuai, jangan pilih.

Menurut Meike, beberapa kata masih terasa keras. Ia akan melembutkannya lagi, agar tidak ketahuan maksud sebenarnya. Ia tidak mau dianggap pengkhianat oleh teman-temannya, tapi juga tidak mau terpilih. Walau sekaranglah kesempatan itu.

Meike beranjak dari tempat duduknya menuju ruang tamu. Setelah menghela nafas sesaat, ia mengambil gagang telepon dan menekan beberapa nomor. (P’Mails, Edisi 102 Tahun III – 08 September 2007)

Explore posts in the same categories: alas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.