Bermula dari Simpang Itu
DUA pekerjaan yang kubenci sebelum memasuki bulan puasa: Berkunjung ke makam. Sama tidak sukanya ketika teman-teman sudah nongkrong di depan rumah untuk pergi balimau, sehari sebelum puasa. Apa gunanya! teriakku dalam hati setiap akan memasuki bulan suci itu.
Awalnya aku suka. Bahkan aku menanti-nantikannya. Ada rasa terenyuh. Rindu. Apalagi sejak kakak cowokku juga ikut tertanam di areal pendam perkuburan suku ini. Sakit kuning yang terlambat diselamatkan. Stadium empat. Ia baru kelas enam SD. Kenapa? tanyaku waktu itu. Tanya yang hanya membentur langit.
Memasuki SMA aku mulai merasakan ada yang salah. Mulanya ketika mendengar ucapan seorang temanku. “Orang mati tidak bisa mendoakan kita,” katanya santai ketika kutanya kapan ia terkakhir ke perkuburan. Apalagi saat aku tahu itu hanya tradisi, bukan suruhan agama. Kalau mau berkunjung ke makam, kenapa tidak ke makam nabi? Seperti yag dilakukan sebagian orang Afrika ketika berhaji. Tanah yang berhasil digapai dalam selingkaran kuburan nabi terakhir umat dunia itu dibawa pulang untuk dijadikan azimat.
Rasa hormat, alasan ibuku ketika aku mencoba menolak. Bukankah sudah ada dalam doa, jawabku. Rasa hormat yang lain, balasku ibuku lagi. Yang mana, tanyaku. Pada ini, tunjuk ibu pada dadanya. Aku tak ada jawab meski tidak puas.
Itu hanya tradisi Hindu, bantahku dalam hati. Tradisi yang tersisa sebelum masuknya Islam. Tidak ada keharusan. Tidak ada kewajiban.
Setengah hati aku melangkahi nisan-nisan yang bersusun. Kami sekeluarga menuju sebuah sudut. Kulihat sudah menunggu beberapa orang di makam yang juga akan kami kunjungi. Lemas saja tanganku membawa bunga dalam buket. Ibu menyentuh lengan. Mengajak langkah dipercepat.
Tiba-tiba tanganku menegang. Seperti menyentak dari pengangan ibu. Sesaat ibu memandangku heran. Aku menggelengkan kepala kuat-kuat menghindari tuduhannya. Telunjukku menunjuk sekelompok orang. “Yang pakai baju biru,” ujarku. “Kenapa?” tanya Ibu.
Aku menjangkau sekumpulan adegan dalam kepala. Bukankah itu Anda? tanyaku dalam hati. Tidak mungkin tidak. Aku akan mengenalinya meski dalam jarak seratus meter. Gerak tubuhnya, langkahnya sudah kuhapal sampai detil.
Anda, Anda, kenapa ia di sini? Sejanak kepalaku mencari alternatif lain. Tak kutemukan. Oh, tidak. Jangan, ujarku dalam hati. Jangan dia.
Sakit hati masih kurasakan. Teramat sangat. Berrmula dari simpang itu. seorang cowok menabrakku. Seluruh peganganku berhamburan kemana-mana. Ia berhenti sebentar. Memandangku. Lalu, berlalu. Tak pernah kutemukan laki-laki sekurang ajar itu. Aku mengejarnya. Setelah mendebatnya, ia minta maaf. Tapi, dengan gaya kurang ajar dan tetap melanjutkan perjalanan
Kemudian aku tahu, ia satu sekolah denganku. Dengan berbagai alasan, aku membencinya. Tingkahnya makin hari makin memuakan. ”Ia jatuh cinta padamu,” kata Teri, teman sebangkuku. Aku menggelengkan kepala seketika, mengusir bayangan-bayangan klise. ”Bukankah, kerjanya cuma menarik perhatianmu?” alasan Teri lagi, ”Dan kau tahu kenapa. Ya?” Aku tidak menggelengkan kepala lagi. Tapi, perbuatannya sulit kumaafkan. Aku masih ingat bagaimana ia memanggilku, imut. Aku tahu itu singkatan. Tapi, aku tidak berani mengira-ngira artinya. Namun, bisik-bisik teman sampai juga ke telingaku, hItaMUTlak. Aku tidak akan sakit hati kalau yang memanggilnya bukan Anda. Ia melakukannya setelah minta maaf padaku dan berjanji tidak akan mengulangi segala perbuatannya.
Ibu menyentuh lenganku. Aku tersadar. ”Siapa, Bu?” Ibu menyipitkan mata sebentar. ”O, itu Anda,” kata Ibu. ”Maksud Risa, anak siapa, Bu?”. ”Kamu tidak tahu?” Aku menggeleng. ”Itu anak mamakmu. Kenapa?” tanya Ibu. ”Jadi, puluhan tahun ini kami tidak pernah dikenalkan?” keluhku.
Ibu tersentak sesaat. Lalu, berusaha mencari ”apa yang salah”. ”Tidak sebanyak tahun yang kamu bayangkan. Rasanya kalian berteman waktu kecil. Ia sering menganggumu ketika sama-sama di TK dulu. Ingat, ia memanggilmu imut?” terang Ibu (apa yang bisa diingat dari masa kecil?).
Jangan dia, Tuhan, mohonku dalam hati. Terlambat, senyum Anda sekitar sepuluh langkah dari hadapanku. (P’Mails, Edisi 103 Tahun III 09 – 15 September 2007)