Mia Repot Sendiri

AH, pesantren lagi, rutuk Mia dalam hati. Bukan dibuat-buatnya. Yang jadi masalah bagainya adala pertama, kenapa pesantren? Kenapa tidak nama yang lain? Perguruan, misalnya? Kan lebih dekat dengan khasanah Minangkabau. Ia tanya pendapat Rio, anak berambut kriwil itu cuma menjawab, “Tidak bagianku, tidak bagianku.” Benar juga sih, tetangga Mia mulai lahir itu memang jago melukis. Tak ada perhatian lain yang ditujukan selain coret-coret di kertas.

 Masalah lain yang tersekat di ujung hatinya adalah, kenapa acara itu selama bulan Ramadhan? Kenapa tidak belajar saja? Bukankah itu akan mengurangi jam belajar di sekolah? Tidak kurang saja belum tentu semuanya mengerti apalagi dikurangi. Benar?

Ia tanya pada Iman. Cowok pintar dan pendiam (nampaknya karakter itu sulit diubah, Mia sering mimpi ketemu cowok ceriwis tapi oke dalam belajar. Tak ada. Nihil). Iman memandangnya sesaat. ”Kamu ndak kerjaan lain?” tanya Iman. Mengagetkan Mia. Tak biasanya cowok itu ”terasa” ketus. ”Kamu nggak ada pertanyaan lain?” balas Mia. Iman tersenyum. ”Maaf, agak nggak biasanya, ya. Namun, mudah-mudahan menjawab pertanyaanmu,” jawab Iman kalem.

Mia mengkerut. Tidak hanya keningnya tapi hatinya. Akan memakan waktu meladeni Iman kalau sudah ngomong tak berujung ini. Kapan ia jawab pertanyaanku, bisik Mia dalam hati.
”Maksudmu?” tanya Mia hati-hati. ”Lho, aku sudah jawab pertanyaanmu,” kata Iman santai. ”Yang mana, Man?” tanya Mia berusaha sabar. Bukan hanya karena bulan puasa. Ia terlalu banyak perlu dengan Iman. Cowok ini kalau ngambek bisa barabe. Melebihi ngambeknya cewek, kadang-kadang. ”Aku nanya, kamu malah jawab dengan pertanyaan,” ujar Mia lagi.
Iman menatapku, ”Aku sudah menjawab pertanyaanmu, kenapa kamu tidak bertanya seperti aku bertanya padamu, lalu kau kembali tanya padaku?” katanya. ”Man, please, aku sudah pusing. Jangan main-main lagi,” pintaku. Iman kembali menatapku. Lalu pergi. Begitu saja. Aku menghentakkan kaki. Namun, jangan harap Iman berbalik apapun kejadian yang menimpa setelah itu.

Haruskah aku ikut saja? Aku tidak pula ingin begitu saja. Apa alasannya kalau ikut? Mesti kuat. Kalau tidak sepanjang acara aku hanya akan mengomel saja. Tidak baik untuk situasi nanti.

Tidak ada lagi tempat bertanya. Pada Bu Aini, guru agamaku, yang telah berumur hampir 60, rasanya percuma. Hanya nasehat dan nasehat yang akan kudapat. Bertanya pada Ibu atau Ayah aku tidak berani lagi. Pertanyaan mereka akan lebih banyak. Akan ada kekhawatiran. Sesuatu yang kubenci. Akan ada larangan. Mungkin ke voli, olahraga kusukaanku. Hal yang juga kubenci.

***
Di dalam kamar tak ada yang bisa kulakukan selain merenungi perkataan Iman. Aku tahu, selama bulan suci ini banyak teman-teman –kuperhatikan—menjadikannya sebagai bulan ”mainan”. Bagaimana nggak, habis bulan suci ini mereka juga melaksanakan kerjaan-kerjaan yang ter-cancel (istilah yang juga tak kusukai. Karena makin meyakinkanku bahwa teman-teman hanya menahan diri, tidak memperbaiki diri) sebelumnya. Kegiatan-kegiatan yang rasanya tidak menambah apa-apa selain dosa.

Kadang-kadang aku salut juga, kata Mia dalam hati. Salutnya itu pada kemauan teman-temannya menahan diri selama bulan puasa atau tidak terlalu terang-terangan selama bulan puasa.

Aku merasa, percuma saja mengadakan pesantren ini. Tidak ada perbaikan karena banyak aku merasa teman-teman tidak serius menjalankan bulan suci ini?
Tiba-tiba suara Iman melesat dalam kepala Mia. Kenapa kamu tidak bertanya seperti aku bertanya padamu, lalu kau kembali tanya padaku? Main-main itu apa gunanya, tanya Mia lagi. Namun, tergerak juga hatinya melakukan permainan itu. Misalnya, kenapa percuma pesantren ramadhan ini? Apanya yang percuma? Teman-temanku begitu, aku? Bagaimana dengan aku? Sudahlah menjalankan puasa dengan benar? Aku tidak suka ceramah ramadhan, tapi sudahkah aku membuat ceramah yang akan aku sukai?

Pelan-pelan, kepala Mia penuh dengan pertanyaan. Mia tidak menyangka akan begini jadinya. Ia repot sendiri menahan pertanyaan-pertanyaan itu. Ia repot menjawabnya.
Suatu saat,sesaat sebelum tengah malam, Mia mengeluh, ”Aku capek.” (P’Mails, Edisi 104 Tahun III 16 – 22 September 2007)

Explore posts in the same categories: alas

Comment: