Pembelaan Fio
FIO baru mengangkat takbir pertama. Siang yang panas itu sedikit menyejukkan setelah mengambil wuduk. Tangannya masih tergantung di udara. Ia membayangkan sesuatu. Masih menyekat dalam hatinya. Marah pada siapa, ia tak tahu. Tanya pada siapa, ia tak siap malu.
Lima menit berlalu. Belum satu rakaat pun ia menyelesaikan shalatnya. Ia masih mencoba takbir. Lalu, menghela nafas. Takbir lagi…
Bayangan dalam kepalanya tak mampu ia usir. Angie, temannya, dipermalukan dalam pesantren ramadhan. Ia tak menyerahkan foto untuk formulir. “Sudah lima hari yang lalu, kami jelaskan. Kami terangkan. Entah kenapa tak ada yang mendengar. Angin saja lalu, kita bisa tahu. Tapi, ini orang yang ngomong tidak didengarkan. Anda-anda (maksudnya kami) mau coba-coba panita, instruktur dan “kami” (kami di sini, maksudnya saya) ,ya?” gertak seseorang di depan mimbar. Bukannya tak mau, tapi Angie tak bisa.
Gempa yang menghentak-hentak —entah beberapa kali sehari— merobohkan rumahnya. Angie tahu kenapa rumahnya saja yang rebah. Kayu lapuk, paku yang longgar, papan yang bolong, masih banyak yang bisa dijadikan alasan. Angie juga tahu arti bersandarnya pinggang rumah Angie dengan tanah: ia tak bisa minta apa-apa lagi selama puasa. Meskipun untuk cetak beberapa lembar foto berbagai ukuran.
Fio coba Bantu. Tapi, Angie tidak mau. “Kamu telah banyak membantu,” katanya. Fio memaksa, Angie menitikkan air mata. “Fio malu, Fi. Malu,” katanya sedu. Fio menyerah.
Sama menyerahnya dengan shalat zuhur yang (sedang) ia lakukan. Fio terduduk. Meski waktu zuhur telah lewat setengah jam. Tadi, ia sengaja lama-lama di wc agar bisa shalat sendiri. Shalat jemaah akan membuatnya mengembara, menyusun rencana. Sesuatu yang tidak mau ia lakukan saat ini. Shalat jemaah akan membuatnya berandai-andai.
Ia berharap dengan shalat sendiri ia bisa kosentrasi. Hal yang agak mustahil dilkukannnya setelah peristiwa Angie. Bisa melafalkan bahasa Arab di mulut dan artinya dalam hati. Ia mulai terbiasa melakukannya belakangan ini. Kata orang, itu bikin shalat khusuk. Fio mengangguk setelah mencobanya. Namun, hal itu tidak berlaku siang ini. Hatinya terlalu abu-abu. Ia benar-benar tidak tahu lagi, apa yang mesti dilakukan. Sudah dicobanya menyabarkan perasaannya apalagi sedang puasa.
Masih terngiang dalam ingatannya, bentakan instruktur tadi pada Angie. “Dari rumah apa yang kamu pikirkan, ha! Masa membawa foto yang ukurannya kecil saja kamu tidak bisa. Apa yang kamu bisa? Bagaimana kamu dipercaya membawa yang lebih besar?”
Angie mengisak. Fio mau maju. Ini sudah kelewatan, kata Fio dalam hati. Tidak ada kamusnya begini. Lengannya ditahan panitia yang lain. Seorang cewek yang juga kini berada di hadapanku.
“Udah?” tanyanya lembut. Fio hanya bisa memandang wajah lembut itu dengan tegang. Fio menyukainya. Ia lebih tenang dibanding panitia yang lain. Namun hanya ia seorang. Selebihnya membuat kening Fio berkerut.
“Fi?” tanyanya lagi. Fio menggeleng cepat. “Fio mau minum,” katanyo. “Kamu nggak puasa?” Lagi-lagi Fio menggeleng. “Lho?” tanyanya heran. “Tadi, iya,” jelasku. “Kenapa?” burunya. Fio diam. “Yang tadi, ya. Kamu tidak bisa menahan marah. Tidak kosentrasi shalat, lalu menganggap puasamu batal. Begitu?”
Fio hanya diam. Tidak itu saja sebenarnya. Setelah puas Fio batal Fio akan melabrak instruktur itu habis-habisan. Fio akan argument habis-habis dengan dia tentang layak atau tidaknya ia berbuat begitu. Sama sekalai tak layak! kata Fio.
Perempuan dewasa yang berada di depanku itu tersenyum. Ia separo memaksa Fio untuk duduk. Ditatapnya Fio, “Kamu tahu, hal tersulit dari semua ini adalah latihan. Siapa kamu yang mengira puasa kamu batal?” suara itu tidak marah tapi tajam. Menusuk udara. Melingkar-lingkar. Mengurung Fio dalam belitannya.
“Orang yang berharga itu, orang yang ketika jatuh dapat bangkit lagi, Fi? Bukan yang terlena. Siapa yang bisa memastikan shalatnya dapat pahala? Siapa yang bisa memastikan puasanya diterima. Itu rahasia Allah, Fi. Biar saja. Yang bisa dilakukan manusia adalah berusaha. Untuk khusuk. Untuk tawaduk. Jika kamu jatuh di tengah hari, bangkitlah. Jangan lakukan kesalahan yang sama sampai kapan pun.”
Antara kesakitan hati dengan keinginan membela temannya, Fio memilih tertunduk. Kemarahan tidak pernah menyelamatkan apapun. (P’Mails, Edisi 105 Tahun III 23 – 29 September 2007)