Aman, Ah

SUDAH dua kali, tidak, tiga kali Randy melakukannya padaku. Sekali dua bisa kumaafkan. Tiga? Entahlah. Aku juga tidak tahu kenapa aku masih mempercayainya. Mungkin itu hanya tiga kesalahan dari begitu banyak kebaikan yang dilakukannya. Aku juga tidak tahu.
Namun, kadang-kadang tak kumengerti. Ia membuat kesilapan (mungkin itu kata yang tepat) ketika aku tidak membutuhkannya.

Pertama, tiga bulan yang lalu. Aku menitip sebuah buku padanya untuk diberikan pada Hanny. Perempuan berwajah budar itu telah memberikan ultimatum: serahkan atau perkawanan hilang! Aku memilih serahkan. Hanny terlalu baik padaku dalam meminjamkan buku. Anak pintar itu selalu membantuku dalam kesulitan. Buku-buku catatanya meminimalkan jarak pelajaranku yang selalu tertinggal karena kegiatan ekstra. Terpilihnya aku dalam tim voli pelajar membuat pelajaranku mengawang. Latihan lima kali seminggu. Kalau TC bisa tujuh kali. Dua kali sehari.
Entah kenapa, Randy yang juga sudah kuwanti-wanti ala Hanny, lupa memberikannya. Hanny mencariku dengan muka marah. Untung Randy mengaku salah. Untung, sekali lagi untung.
Kejadian kedua tak perlu diceritakan. Mirip soalnya. Kejadian ketigalah yang paling menghebohkan.

Hanny pesan album Dave Matthews Band, Under the Table and Dreaming sebagai “upah” kesalahanku. Aku sedang di Jakarta mengikuti pertandingan. Kami kalah di semifinal (prestasi terbaik yang pernah diraih dan aku jadi spiker terbaik), tapi untung mendapat waktu sehari untuk belanja. Sambil belanja aku ingat wanti-wanti Hanny, ”Harus, Feb. Harus. Dengan darah, kalau perlu kamu mencarinya.” Aku senyum dengar istilahnya. Tapi, Hanny tidak. Aku jadi serius. ”Sudah seluruh toko kaset di sini kuobrak-abrik. Mereka malah menjual kaset-kaset yang tak berguna!” tambahnya.

Aku paham. Seleranya agak beda dengan kebanyakan remaja lainnya. Ia menyukai musik unik. Pernah ia ke Jakarta hanya memburu album Bjork. Aku takzim ketika suatu kali ia menerangkan konsep album penyanyi dari Islandia (di mana negaranya?) itu. Saat mendengarnya pun aku lebih takzim. Tak mengerti. Entah di dunia mana aku dibawa.

Maka, ketika mendapatkan aku gembira melebihi mendapat gelar spiker terbaik. Aku menjaganya melebihi pesanan lain. Untuk Randy aku membelikan album Pearl Jam, Ten. Ia bilang, ”Saya satu-satunya fans grup yang lebih bagus dari Nirvana itu, di sini. Di sini,” lagaknya. Aku menggeleng bingung. Kedua hadiah itu kubungkus rapi. Namanya juga hadiah.
Sayangnya, aku tak bisa menyerahkannya langsung ke tangan Hanny. Aku sudah harus masuk camp lagi. Kali ini kejuaraan di Medan. Terpaksa, aku kembali titip ke Randy. Kali ini dengan taklimat yang lebih kuat. ”Aman,” katanya santai. ”Hei, itu juga kata yang kau sebutkan ketika akan mengembalikan buku Hanny,” balasku. ”Kata yang sama untuk ratusan titipan lainnya. Damai. Damai,” ujarnya lebih cengengesan sambil mengangkat dua jari.

Apa yang kutakutkan terjadi. Hanny kembali menyerbu dengan muka merah. Ia mengangsurkan kotak kaset di depan hidungku (malah hampir mengenai). ”Kukira telingamu belum pekak,” ujarnya separo menghardik. Aku kaget. ”Han, aduh, ada apa?’ tanyaku mengkerut. ”Aku tidak minta ini, Sayang,” ujarnya menekankan kata sayang dengan tajam. Kutajamkan pandangan. Randy, rutukku dalam hati. Kaset yang salah. Kujanjikan pada Hanny untuk membereskannya. ”Sudah tiga kali,” ujarnya memolotokan mata, ”dan tak tahu kenapa aku masih sayang padamu.” Ia menghempaskan kaset itu dan beranjak pergi.
Kutemui Randy di kelasnya. Ia sedang mendengar sesuatu melalui walkman barunya. Ia kaget ketika undaknya kutepuk. Aku melambaikan kaset itu di wajahnya. Ia tidak tampak kaget. Malah tersenyum. Kesalku berlipat.

”Sori. Aku salah kasih,” katanya mengeluarkan earphone dari kupingnya. ”Ini kan sudah lebih dari seminggu,” ujarku tak mengerti. ”Aku juga suka kasetnya, hehehe,” cengegesan lagi. Aku benar-benar mampet. ”Cari Hanny. Kembalikan padanya. Bilang itu kesalahan kamu. Kenapa kamu begitu menyebalkan, hah? Tidak bisakah kamu kupercaya?” jeritku. ”Wow, aku masih lelakimu. Tenang, tenang, Say. Semua bisa dikendalikan,” katanya santai. ”Say…yur dengkulmu,” umpatku, ”Cepat kembalikan ke Hanny!” Randy bergegas tegak mendengar bentakanku.

Sesampainya di depan jendela kelas, ia memandangku, ”Seminggu lagi, ya. Lagunya enak buangget,” ujarnya sambil memainkan matanya. Tapi, sungguh, tidak lucu. Aku mengejar. Ke manapun. (P’Mails, Edisi 106 Tahun III 30 September – 06 Oktober 2007)

Explore posts in the same categories: alas

Comment: