DI MANA UANGMU KALIAN TARUH?

BERITA gempa cukup menggemparkan pesanteren ramadhan yang sedang kuikuti. Apalagi mendengar kerusakan yang terjadi. Aku cukup sedih mendengar teman-teman di Bengkulu tidak bisa melakukan apa-apa selain berdiam diri di bawah tenda-tenda yang disedikaan. Begitu juga pelajar yang ada di Lunangsilaut, Pesisirselatan.

 Di tempatku, tidak ada kerusakan yang parah. Jikapun ada, tidaklah terlalu menyusahkan. Aku mengambil inisiatif mengajak beberapa teman-teman berunding untuk memberikan sumbangan. Sekedar meringankan beban. Mereka mengangguk. Ketika ditanyakan kepada instruktur dan panitia pesantren mereka juga tidak keberatan.

Aku membuat daftar sumbangan. Untuk semarak kutulis sebait pantun di bagian atas kertas yang kudengar dari kaset Minang milik Kakakku: Saribu masuak narako, limo ribu masuak sarugo (aku sempat tertawakan selera Kakakku itu. Namun diam-diam aku suka. Bahkan…ah, kuceritakan lain kali saja). Buat penyemangat aja. Biar orang tersenyum. Kalau tersenyum kan bisa lapang yang lain. Termasuk sakunya. Sekaligus (bisa) merasa tersindir. Mana tahu dikasih lebih. Hehehe…

Aku dan Wisnu sudah membayangkan apa yang akan kami lakukan dengan uang itu. Kami akan belikan perangkat sekolah seperti buku dan pena. Pasti mereka memerlukan.
Di rapat panitia, sebenarnya ada yang tidak bersedia. Ada yang mengusulkan agar dibelikan baju saja, agar bisa berlebaran seperti anak-anak seusia mereka. Menarik juga sih, kataku, tapi apa gunanya kalau mereka tidak punya buku pelajaran? Itu sudah ada yang ngatur, teriak yang lain. Mereka kesal karena sejak awal pembentukan panitia, cuma aku dan Wisnu yang aktif dalam memberikan pendapat –kadang-kadang menghimpit pendapat yang lain, kesannya—.

Ada yang juga mengusulkan agar diberikan saja uangnya, lebih praktis. Lebih efisien. Ah, tidak menarik itu, tukasku, banyak penipuan sumbangan sekarang. Sedekah kita bisa jatuh pada jurang yang gelap. Itu udah ada yang ngatur, teriak seseorang lagi.
Setelah bertele-tele selama tiga jam, akhirnya tman-teman yang lain menyerah. Mereka menyerahkannya padaku. Aku segera keluarkan kertas yang memang telah aku sediakan untuk kemenangan pendapatku.

Aku bilang, bahwa setelah membelikan alat-alat sekolah akan ada tiga orang yang berangkat dari kita sebagai utusan. Semua berpandangan. Mencari tahu siapa yang akan mendapat satu jatah lagi karena jelas dua lagi merupakan kuota aku dan Wisnu.
Ketika memilih tegar dengan alasan pengangutan barang-barang, yang lain menerima, meski sebagian tidak dengan dada terbuka.

Namun, meminta sumbangan tidak semudah yang aku kira. Hampir seharian aku mengansurkan map itu ke hadapan teman-teman. Baru dua orang yang mengisinya. Ada saja alasan mereka. “Seribu? Seratus pun aku tak punya,” ujar seorang teman. “Ini menyindir. Bulan puasa. Lagian kita tidak sekolah, bagaimana bisa punya uang lebih,” ujar teman yang lain. “Aku juga kesusahan. Mestinya sumbangan ini untukku,” ujar yang lain. “Aku cuma punya tiga ratus. Kalau kusedekahkan terlalu sedikit. Malu lah awak,” sebut satunya. “Siapa pula yang buka pos BAZ di sini,” sindir yang lain. “kalu doa saja bolehj, nggak, “ ujar wendi memandangku nakal. Ada yang menatap pasrah karena memang tidak punya uang. Banyak lagi. Aku pusing.
Aku sempat berpikiran, teman-teman yang kutolak idenya lah otak dari “mogok” sedekah ini. Mereka ingin menyabotaseku. Ingin memperlihatkan bahwa aku tidak akan bisa melaksanakan apapun tanpa mereka.

Namun, ketika aku saksikan mereka dengan muka letoy, aku jadi berpikiran lain. Tiara dengan Mega kembali dengan muka merah padam. Katanya, belum sempat keduanya bicara, tangan yang diminta sudah diangakt ke udara. Ada juga yang hanya menggoda mereka. Mempermainkan, lalu dikasih seribu. Malu, malu, isak Mega.

Kejadian hampir sama menimpa teman-teman yang lain. Aku tak habis mengerti. Aku tak percaya. Beberapa orang aku mengerti kondisinya. Beberapa yang lain seperti Wendi, jelas aku meragukan. Jadi, apa yang salah? Di Mana Uangmu Kalian Taruh? (P’Mails, Edisi 107 Tahun III 07 – 13 Oktober 2007)

Explore posts in the same categories: alas

Comment: