Baju Merah dan Biru
PUASA memasuki hari pertama saja, aku sudah merengek pada Mama. Baju kebaya merah yag dipakai seorang artis di TV menitikkan selera. Aku sudah membayangkan memakainya di hari pertama lebaran. Aku akan melangkah pelan-pelan agar debu tidak mengenai ujung kebaya. Renda yang menyelimuti hampir seluruh kebaya itu indah. Berlekuk dan kadang melenggok kalau digerakkan. Sepulang shalat aku akan segera menggantinya dengan baju yang lain. Ia hanya akan kupakai untuk peristiwa-peristiwa penting saja.
Terlihat, agak ketat, sih, tapi tidak masalah. Susah untuk tidak memilikinya. Aku tidak minta yang lain. Hanya itu keinginanku lebaran kali ini.
Awalnya, mama mengelak. Ia mengingatkan rumah yang mesti diperbaiki karena gempa. Fidiyah yang mesti dibayar karena mamaku baru melahirkan adikku yang bungsu. Juga biaya sekolah kakakku yang baru memasuki dunia kuliah (sayangnya, cuma dapat swasta), rupanya menyita tabungan mama dan papa.
Namun, aku tidak peduli. Sudah dua kali lebaran aku tidak mendapat apa-apa. Aku tidak minta, itu soalnya. Buat apa baju baru, kataku waktu itu, kalau tidak diiringi hati yang baru.
Namun, yang memakai kebaya itu Dian Sastro. Figur remaja yang tak bisa kuelakkan pesonanya juga memanah hatiku. Apa saja beritanya tak pernah kulewatkan. Tak dinyana, aku punya seorang teman yang bisa membuatku mendapatkan nomor hpnya. Kejadian yang berada di luar impianku yang terliar sekali pun. Anehnya, kami malah akrab. Kami sering cerita-cerita lewat sms. Boleh dibilang, dari sedikit orang yang tahu kenapa Dian putus dengan pacaranya, itu termasuk aku. Ia minta aku merahasiakannya. Dan sebagai patch sister, aku mesti menjaga kerahasiaan itu. Jadi, jangan harap. Ia pernah ingin bertemu, aku tolak. Aku bilang, nggak level, kataku. Ia kaget. Levelmu jauh di atasku, tambahku. Ia marah padahal aku hanya bercanda. Aku berikan alasan kenapa kita kami tidak boleh bertemu. Kamu hanya akan menambah pekerjaanku saja. Beberapa orang yang kenal denganku akan minta ini, itu. Aku belum mau, ujarku.
Jadi, begitu aku mendapatkan jawaban Dian, apa dan bagaiamana bahan bajunya, aku segera “meneror” mama. Berarti, mama tidak membelikan satu, katanya. Terserah, jawabku. Maksud Mama, kakakmu juga mesti dibelikan. Aku juga mengangkjat bahu tanda terserah. Anak, anak mama, kataku sambil berlalu. Alhasil, aku kena jewer. Walau, sekali lagi, maksudku cuma bercanda.
Baju itu selesai tiga hari sebelum lebaran. Aku menyimpannya dalam lemari baju. Milik kakak mau kuberikan, tapi ia tidak ada. Jadi, kutumpuk saja lebih dulu, agar gampang memberikannya.
Besok sore, sepulang dari pasar aku terkejut mendapatkan kebaya itu tidak lagi berada di tempatnya. Yang ada hanya kebaya kakak. Aku tambah kaget ketika kakak pulang dengan kebaya merah itu melekat di badannya. Aku tanyakan, ia bilang aku mau warna biru. Aku bilang merah. Mana cocok kulitmu dengan warna merah, katanya. Aku tersinggung. Bukan kakak yang menentukan apa yang kupakai, teriakku. Mama datang dan menghentikan segalanya. Kami dipisah. Kakakku ikut ayah.
Malamnya aku tidak bisa tidur. Kegagalanku memakai kebaya merah terus menghentakd alam bola mata. Sesuatu, kemudian menghiburku. Yah, mungkin kakak ada benarnya, aku mungkin tidak cocok makai warna merah. Biru lebih mengharu. Toh, motif dan bentuknya hampir sama.
Capek membuatku langsung tidur setelah sahur dan subuh. Ketika bangun dan ingin merasakanmemakai baju warna biru, aku kembali kaget, karena yang kutemukan kebaya merah. Aku tanya mama, katanya kakakmu keluar dengan baju itu. Nafasku sesak. Aku berlari ke kamar. Apalagi, menangislah.
Ketika kakak pulang, pertengkaran kembali tak dapat dihindari. Ia bilang, tapi katanya kamu mau kebaya warna merah. Jadi, aku hanya akan memakai sisamu? bentakku tak tahan lagi. Mama susah payah melerai kami. Akhirnya Papa menghentikannya denga lecutan sapu lidi di kaki kami.
Aku berlari masuk kamar. Aku benar-benar sesak. Hilang semua bayanganku memakai baju kebaya “baru”. Namun, dalam keheningan malam itu, lapat-lapat aku dengar suara bergaung, Buat apa baju baru, kalau tidak diiringi hati yang baru. (P’Mails, Edisi 108 Tahun III 21 – 27 Oktober 2007)