<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>KOLOM KANAN</title>
	<atom:link href="http://kolomkanan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kolomkanan.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 01 Dec 2007 09:35:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kolomkanan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>KOLOM KANAN</title>
		<link>http://kolomkanan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kolomkanan.wordpress.com/osd.xml" title="KOLOM KANAN" />
	<atom:link rel='hub' href='http://kolomkanan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/11/17/hello-world/</link>
		<comments>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/11/17/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Nov 2007 08:18:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kolomkanan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=1&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kolomkanan.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kolomkanan.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomkanan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomkanan.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kolomkanan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kolomkanan.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kolomkanan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kolomkanan.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kolomkanan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kolomkanan.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kolomkanan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kolomkanan.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kolomkanan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kolomkanan.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kolomkanan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kolomkanan.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=1&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/11/17/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7137f0cb57e614d73fad590ab1140479?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kolomkanan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Baju Merah dan Biru</title>
		<link>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/10/21/baju-merah-dan-biru/</link>
		<comments>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/10/21/baju-merah-dan-biru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Oct 2007 09:32:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kolomkanan</dc:creator>
				<category><![CDATA[alas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomkanan.wordpress.com/2007/10/21/baju-merah-dan-biru/</guid>
		<description><![CDATA[PUASA memasuki hari pertama saja, aku sudah merengek pada Mama. Baju kebaya merah yag dipakai seorang artis di TV menitikkan selera. Aku sudah membayangkan memakainya di hari pertama lebaran. Aku akan melangkah pelan-pelan agar debu tidak mengenai ujung kebaya. Renda yang menyelimuti hampir seluruh kebaya itu indah. Berlekuk dan kadang melenggok kalau digerakkan. Sepulang shalat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=34&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PUASA memasuki hari pertama saja, aku sudah merengek pada Mama. Baju kebaya merah yag dipakai seorang artis di TV menitikkan selera. Aku sudah membayangkan memakainya di hari pertama lebaran. Aku akan melangkah pelan-pelan agar debu tidak mengenai ujung kebaya. Renda yang menyelimuti hampir seluruh kebaya itu indah. Berlekuk dan kadang melenggok kalau digerakkan. Sepulang shalat aku akan segera menggantinya dengan baju yang lain. Ia hanya akan kupakai untuk peristiwa-peristiwa penting saja.</p>
<p><span id="more-34"></span> Terlihat, agak ketat, sih, tapi tidak masalah. Susah untuk tidak memilikinya. Aku tidak minta yang lain. Hanya itu keinginanku lebaran kali ini.</p>
<p>Awalnya, mama mengelak. Ia mengingatkan rumah yang mesti diperbaiki karena gempa. Fidiyah yang mesti dibayar karena mamaku baru melahirkan adikku yang bungsu. Juga biaya sekolah kakakku yang baru memasuki dunia kuliah (sayangnya, cuma dapat swasta), rupanya menyita tabungan mama dan papa.</p>
<p>Namun, aku tidak peduli. Sudah dua kali lebaran aku tidak mendapat apa-apa. Aku tidak minta, itu soalnya. Buat apa baju baru, kataku waktu itu, kalau tidak diiringi hati yang baru.<br />
Namun, yang memakai kebaya itu Dian Sastro. Figur remaja yang tak bisa kuelakkan pesonanya juga memanah hatiku. Apa saja beritanya tak pernah kulewatkan. Tak dinyana, aku punya seorang teman yang bisa membuatku mendapatkan nomor hpnya. Kejadian yang berada di luar impianku yang terliar sekali pun. Anehnya, kami malah akrab. Kami sering cerita-cerita lewat sms. Boleh dibilang, dari sedikit orang yang tahu kenapa Dian putus dengan pacaranya, itu termasuk aku. Ia minta aku merahasiakannya. Dan sebagai patch sister, aku mesti menjaga kerahasiaan itu. Jadi, jangan harap. Ia pernah ingin bertemu, aku tolak. Aku bilang, nggak level, kataku. Ia kaget. Levelmu jauh di atasku, tambahku. Ia marah padahal aku hanya bercanda. Aku berikan alasan kenapa kita kami tidak boleh bertemu. Kamu hanya akan menambah pekerjaanku saja. Beberapa orang yang kenal denganku akan minta ini, itu. Aku belum mau, ujarku.</p>
<p>Jadi, begitu aku mendapatkan jawaban Dian, apa dan bagaiamana bahan bajunya, aku segera “meneror” mama. Berarti, mama tidak membelikan satu, katanya. Terserah, jawabku. Maksud Mama, kakakmu juga mesti dibelikan. Aku juga mengangkjat bahu tanda terserah. Anak, anak mama, kataku sambil berlalu. Alhasil, aku kena jewer. Walau, sekali lagi, maksudku cuma bercanda.</p>
<p>Baju itu selesai tiga hari sebelum lebaran. Aku menyimpannya dalam lemari baju. Milik kakak mau kuberikan, tapi ia tidak ada. Jadi, kutumpuk saja lebih dulu, agar gampang memberikannya.</p>
<p>Besok sore, sepulang dari pasar aku terkejut mendapatkan kebaya itu tidak lagi berada di tempatnya. Yang ada hanya kebaya kakak. Aku tambah kaget ketika kakak pulang dengan kebaya merah itu melekat di badannya. Aku tanyakan, ia bilang aku mau warna biru. Aku bilang merah. Mana cocok kulitmu dengan warna merah, katanya. Aku tersinggung. Bukan kakak yang menentukan apa yang kupakai, teriakku. Mama datang dan menghentikan segalanya. Kami dipisah. Kakakku ikut ayah.</p>
<p>Malamnya aku tidak bisa tidur. Kegagalanku memakai kebaya merah terus menghentakd alam bola mata. Sesuatu, kemudian menghiburku. Yah, mungkin kakak ada benarnya, aku mungkin tidak cocok makai warna merah. Biru lebih mengharu. Toh, motif dan bentuknya hampir sama.<br />
Capek membuatku langsung tidur setelah sahur dan subuh. Ketika bangun dan ingin merasakanmemakai baju warna biru, aku kembali kaget, karena yang kutemukan kebaya merah. Aku tanya mama, katanya kakakmu keluar dengan baju itu. Nafasku sesak. Aku berlari ke kamar. Apalagi, menangislah.</p>
<p>Ketika kakak pulang, pertengkaran kembali tak dapat dihindari. Ia bilang, tapi katanya kamu mau kebaya warna merah. Jadi, aku hanya akan memakai sisamu? bentakku tak tahan lagi. Mama susah payah melerai kami. Akhirnya Papa menghentikannya denga lecutan sapu lidi di kaki kami.</p>
<p>Aku berlari masuk kamar. Aku benar-benar sesak. Hilang semua bayanganku memakai baju kebaya “baru”. Namun, dalam keheningan malam itu, lapat-lapat aku dengar suara bergaung, Buat apa baju baru, kalau tidak diiringi hati yang baru. (P’Mails, Edisi 108 Tahun III 21 &#8211; 27 Oktober 2007)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kolomkanan.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kolomkanan.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomkanan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomkanan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kolomkanan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kolomkanan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kolomkanan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kolomkanan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kolomkanan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kolomkanan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kolomkanan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kolomkanan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kolomkanan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kolomkanan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kolomkanan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kolomkanan.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=34&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/10/21/baju-merah-dan-biru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7137f0cb57e614d73fad590ab1140479?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kolomkanan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DI MANA UANGMU KALIAN TARUH?</title>
		<link>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/10/07/di-mana-uangmu-kalian-taruh/</link>
		<comments>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/10/07/di-mana-uangmu-kalian-taruh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Oct 2007 09:29:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kolomkanan</dc:creator>
				<category><![CDATA[alas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomkanan.wordpress.com/2007/10/07/di-mana-uangmu-kalian-taruh/</guid>
		<description><![CDATA[BERITA gempa cukup menggemparkan pesanteren ramadhan yang sedang kuikuti. Apalagi mendengar kerusakan yang terjadi. Aku cukup sedih mendengar teman-teman di Bengkulu tidak bisa melakukan apa-apa selain berdiam diri di bawah tenda-tenda yang disedikaan. Begitu juga pelajar yang ada di Lunangsilaut, Pesisirselatan.  Di tempatku, tidak ada kerusakan yang parah. Jikapun ada, tidaklah terlalu menyusahkan. Aku mengambil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=33&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BERITA gempa cukup menggemparkan pesanteren ramadhan yang sedang kuikuti. Apalagi mendengar kerusakan yang terjadi. Aku cukup sedih mendengar teman-teman di Bengkulu tidak bisa melakukan apa-apa selain berdiam diri di bawah tenda-tenda yang disedikaan. Begitu juga pelajar yang ada di Lunangsilaut, Pesisirselatan.</p>
<p><span id="more-33"></span> Di tempatku, tidak ada kerusakan yang parah. Jikapun ada, tidaklah terlalu menyusahkan. Aku mengambil inisiatif mengajak beberapa teman-teman berunding untuk memberikan sumbangan. Sekedar meringankan beban. Mereka mengangguk. Ketika ditanyakan kepada instruktur dan panitia pesantren mereka juga tidak keberatan.</p>
<p>Aku membuat daftar sumbangan. Untuk semarak kutulis sebait pantun di bagian atas kertas yang kudengar dari kaset Minang milik Kakakku: Saribu masuak narako, limo ribu masuak sarugo (aku sempat tertawakan selera Kakakku itu. Namun diam-diam aku suka. Bahkan&#8230;ah, kuceritakan lain kali saja). Buat penyemangat aja. Biar orang tersenyum. Kalau tersenyum kan bisa lapang yang lain. Termasuk sakunya. Sekaligus (bisa) merasa tersindir. Mana tahu dikasih lebih. Hehehe&#8230;</p>
<p>Aku dan Wisnu sudah membayangkan apa yang akan kami lakukan dengan uang itu. Kami akan belikan perangkat sekolah seperti buku dan pena. Pasti mereka memerlukan.<br />
Di rapat panitia, sebenarnya ada yang tidak bersedia. Ada yang mengusulkan agar dibelikan baju saja, agar bisa berlebaran seperti anak-anak seusia mereka. Menarik juga sih, kataku, tapi apa gunanya kalau mereka tidak punya buku pelajaran? Itu sudah ada yang ngatur, teriak yang lain. Mereka kesal karena sejak awal pembentukan panitia, cuma aku dan Wisnu yang aktif dalam memberikan pendapat –kadang-kadang menghimpit pendapat yang lain, kesannya—.</p>
<p>Ada yang juga mengusulkan agar diberikan saja uangnya, lebih praktis. Lebih efisien. Ah, tidak menarik itu, tukasku, banyak penipuan sumbangan sekarang. Sedekah kita bisa jatuh pada jurang yang gelap. Itu udah ada yang ngatur, teriak seseorang lagi.<br />
Setelah bertele-tele selama tiga jam, akhirnya tman-teman yang lain menyerah. Mereka menyerahkannya padaku. Aku segera keluarkan kertas yang memang telah aku sediakan untuk kemenangan pendapatku.</p>
<p>Aku bilang, bahwa setelah membelikan alat-alat sekolah akan ada tiga orang yang berangkat dari kita sebagai utusan. Semua berpandangan. Mencari tahu siapa yang akan mendapat satu jatah lagi karena jelas dua lagi merupakan kuota aku dan Wisnu.<br />
Ketika memilih tegar dengan alasan pengangutan barang-barang, yang lain menerima, meski sebagian tidak dengan dada terbuka.</p>
<p>Namun, meminta sumbangan tidak semudah yang aku kira. Hampir seharian aku mengansurkan map itu ke hadapan teman-teman. Baru dua orang yang mengisinya. Ada saja alasan mereka. “Seribu? Seratus pun aku tak punya,” ujar seorang teman. “Ini menyindir. Bulan puasa.  Lagian kita tidak sekolah, bagaimana bisa punya uang lebih,” ujar teman yang lain. “Aku juga kesusahan. Mestinya sumbangan ini untukku,” ujar yang lain. “Aku cuma punya tiga ratus. Kalau kusedekahkan terlalu sedikit. Malu lah awak,” sebut satunya. “Siapa pula yang buka pos BAZ di sini,” sindir yang lain. “kalu doa saja bolehj, nggak, “ ujar wendi memandangku nakal. Ada yang menatap pasrah karena memang tidak punya uang. Banyak lagi. Aku pusing.<br />
Aku sempat berpikiran, teman-teman yang kutolak idenya lah otak dari “mogok” sedekah ini. Mereka ingin menyabotaseku. Ingin memperlihatkan bahwa aku tidak akan bisa melaksanakan apapun tanpa mereka.</p>
<p>Namun, ketika aku saksikan mereka dengan muka letoy, aku jadi berpikiran lain. Tiara dengan Mega kembali dengan muka merah padam. Katanya, belum sempat keduanya bicara, tangan yang diminta sudah diangakt ke udara. Ada juga yang hanya menggoda mereka. Mempermainkan, lalu dikasih seribu. Malu, malu, isak Mega.</p>
<p>Kejadian hampir sama menimpa teman-teman yang lain. Aku tak habis mengerti. Aku tak percaya. Beberapa orang aku mengerti kondisinya. Beberapa yang lain seperti Wendi, jelas aku meragukan. Jadi, apa yang salah? Di Mana Uangmu Kalian Taruh? (P’Mails, Edisi 107 Tahun III 07 &#8211; 13 Oktober 2007)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kolomkanan.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kolomkanan.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomkanan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomkanan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kolomkanan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kolomkanan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kolomkanan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kolomkanan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kolomkanan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kolomkanan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kolomkanan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kolomkanan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kolomkanan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kolomkanan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kolomkanan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kolomkanan.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=33&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/10/07/di-mana-uangmu-kalian-taruh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7137f0cb57e614d73fad590ab1140479?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kolomkanan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aman, Ah</title>
		<link>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/09/30/aman-ah/</link>
		<comments>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/09/30/aman-ah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Sep 2007 09:07:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kolomkanan</dc:creator>
				<category><![CDATA[alas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomkanan.wordpress.com/2007/09/30/aman-ah/</guid>
		<description><![CDATA[SUDAH dua kali, tidak, tiga kali Randy melakukannya padaku. Sekali dua bisa kumaafkan. Tiga? Entahlah. Aku juga tidak tahu kenapa aku masih mempercayainya. Mungkin itu hanya tiga kesalahan dari begitu banyak kebaikan yang dilakukannya. Aku juga tidak tahu. Namun, kadang-kadang tak kumengerti. Ia membuat kesilapan (mungkin itu kata yang tepat) ketika aku tidak membutuhkannya. Pertama, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=32&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SUDAH dua kali, tidak, tiga kali Randy melakukannya padaku. Sekali dua bisa kumaafkan. Tiga? Entahlah. Aku juga tidak tahu kenapa aku masih mempercayainya. Mungkin itu hanya tiga kesalahan dari begitu banyak kebaikan yang dilakukannya. Aku juga tidak tahu.<br />
<span id="more-32"></span>Namun, kadang-kadang tak kumengerti. Ia membuat kesilapan (mungkin itu kata yang tepat)  ketika aku tidak membutuhkannya.</p>
<p>Pertama, tiga bulan yang lalu. Aku menitip sebuah buku padanya untuk diberikan pada Hanny. Perempuan berwajah budar itu telah memberikan ultimatum: serahkan atau perkawanan hilang! Aku memilih serahkan. Hanny terlalu baik padaku dalam meminjamkan buku. Anak pintar itu selalu membantuku dalam kesulitan. Buku-buku catatanya meminimalkan jarak pelajaranku yang selalu tertinggal karena kegiatan ekstra. Terpilihnya aku dalam tim voli pelajar membuat pelajaranku mengawang. Latihan lima kali seminggu. Kalau TC bisa tujuh kali.  Dua kali sehari.<br />
Entah kenapa, Randy yang juga sudah kuwanti-wanti ala Hanny, lupa memberikannya. Hanny mencariku dengan muka marah. Untung Randy mengaku salah. Untung, sekali lagi untung.<br />
Kejadian kedua tak perlu diceritakan. Mirip soalnya.  Kejadian ketigalah yang paling menghebohkan.</p>
<p>Hanny pesan album Dave Matthews Band, Under the Table and Dreaming sebagai “upah” kesalahanku. Aku sedang di Jakarta mengikuti pertandingan. Kami kalah di semifinal (prestasi terbaik yang pernah diraih dan aku jadi spiker terbaik), tapi untung mendapat waktu sehari untuk belanja. Sambil belanja aku ingat wanti-wanti Hanny, ”Harus, Feb. Harus. Dengan darah, kalau perlu kamu mencarinya.” Aku senyum dengar istilahnya. Tapi, Hanny tidak. Aku jadi serius. ”Sudah seluruh toko kaset di sini kuobrak-abrik. Mereka malah menjual kaset-kaset yang tak berguna!” tambahnya.</p>
<p>Aku paham. Seleranya agak beda dengan kebanyakan remaja lainnya. Ia menyukai musik unik. Pernah ia ke Jakarta hanya memburu album Bjork. Aku takzim ketika suatu kali ia menerangkan konsep album penyanyi dari Islandia (di mana negaranya?) itu. Saat mendengarnya pun aku lebih takzim. Tak mengerti. Entah di dunia mana aku dibawa.</p>
<p>Maka, ketika mendapatkan aku gembira melebihi mendapat gelar spiker terbaik. Aku menjaganya melebihi pesanan lain. Untuk Randy aku membelikan album Pearl Jam, Ten. Ia bilang, ”Saya satu-satunya fans grup yang lebih bagus dari Nirvana itu, di sini. Di sini,” lagaknya. Aku menggeleng bingung. Kedua hadiah itu kubungkus rapi. Namanya juga hadiah.<br />
Sayangnya, aku tak bisa menyerahkannya langsung ke tangan Hanny. Aku sudah harus masuk camp lagi. Kali ini kejuaraan di Medan. Terpaksa, aku kembali titip ke Randy. Kali ini dengan taklimat yang lebih kuat. ”Aman,” katanya santai. ”Hei, itu juga kata yang kau sebutkan ketika akan mengembalikan buku Hanny,” balasku. ”Kata yang sama untuk ratusan titipan lainnya. Damai. Damai,” ujarnya lebih cengengesan sambil mengangkat dua jari.</p>
<p>Apa yang kutakutkan terjadi. Hanny kembali menyerbu dengan muka merah. Ia mengangsurkan kotak kaset di depan hidungku (malah hampir mengenai). ”Kukira telingamu belum pekak,” ujarnya separo menghardik. Aku kaget. ”Han, aduh, ada apa?’ tanyaku mengkerut. ”Aku tidak minta ini, Sayang,” ujarnya menekankan kata sayang dengan tajam. Kutajamkan pandangan. Randy, rutukku dalam hati. Kaset yang salah. Kujanjikan pada Hanny untuk membereskannya. ”Sudah tiga kali,” ujarnya memolotokan mata, ”dan tak tahu kenapa aku masih sayang padamu.” Ia menghempaskan kaset itu dan beranjak pergi.<br />
Kutemui Randy di kelasnya. Ia sedang mendengar sesuatu melalui walkman barunya. Ia kaget ketika undaknya kutepuk. Aku melambaikan kaset itu di wajahnya. Ia tidak tampak kaget. Malah tersenyum. Kesalku berlipat.</p>
<p>”Sori. Aku salah kasih,” katanya mengeluarkan earphone dari kupingnya. ”Ini kan sudah lebih dari seminggu,” ujarku tak mengerti. ”Aku juga suka kasetnya, hehehe,” cengegesan lagi. Aku benar-benar mampet. ”Cari Hanny. Kembalikan padanya. Bilang itu kesalahan kamu. Kenapa kamu begitu menyebalkan, hah? Tidak bisakah kamu kupercaya?” jeritku. ”Wow, aku masih lelakimu. Tenang, tenang, Say. Semua bisa dikendalikan,” katanya santai. ”Say&#8230;yur dengkulmu,” umpatku, ”Cepat kembalikan ke Hanny!” Randy bergegas tegak mendengar bentakanku.</p>
<p>Sesampainya di depan jendela kelas, ia memandangku, ”Seminggu lagi, ya. Lagunya enak buangget,” ujarnya sambil memainkan matanya. Tapi, sungguh, tidak lucu. Aku mengejar. Ke manapun. (P’Mails, Edisi 106 Tahun III 30 September &#8211; 06 Oktober 2007)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kolomkanan.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kolomkanan.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomkanan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomkanan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kolomkanan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kolomkanan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kolomkanan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kolomkanan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kolomkanan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kolomkanan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kolomkanan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kolomkanan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kolomkanan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kolomkanan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kolomkanan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kolomkanan.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=32&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/09/30/aman-ah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7137f0cb57e614d73fad590ab1140479?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kolomkanan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembelaan Fio</title>
		<link>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/09/23/pembelaan-fio/</link>
		<comments>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/09/23/pembelaan-fio/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Sep 2007 09:02:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kolomkanan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomkanan.wordpress.com/2007/09/23/pembelaan-fio/</guid>
		<description><![CDATA[FIO baru mengangkat takbir pertama. Siang yang panas itu sedikit menyejukkan setelah mengambil wuduk. Tangannya masih tergantung di udara. Ia membayangkan sesuatu. Masih menyekat dalam hatinya. Marah pada siapa, ia tak tahu. Tanya pada siapa, ia tak siap malu. Lima menit berlalu. Belum satu rakaat pun ia menyelesaikan shalatnya. Ia masih mencoba takbir. Lalu, menghela [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=31&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>FIO baru mengangkat takbir pertama. Siang yang panas itu sedikit menyejukkan setelah mengambil wuduk. Tangannya masih tergantung di udara. Ia membayangkan sesuatu. Masih menyekat dalam hatinya. Marah pada siapa, ia tak tahu. Tanya pada siapa, ia tak siap malu.<br />
<span id="more-31"></span>Lima menit berlalu. Belum satu rakaat pun ia menyelesaikan shalatnya. Ia masih mencoba takbir. Lalu, menghela nafas. Takbir lagi…</p>
<p>Bayangan dalam kepalanya tak mampu ia usir. Angie, temannya, dipermalukan dalam pesantren ramadhan. Ia tak menyerahkan foto untuk formulir. “Sudah lima hari yang lalu, kami jelaskan. Kami terangkan. Entah kenapa tak ada yang mendengar. Angin saja lalu, kita bisa tahu. Tapi, ini orang yang ngomong tidak didengarkan. Anda-anda (maksudnya kami) mau coba-coba panita, instruktur dan “kami” (kami di sini, maksudnya saya) ,ya?” gertak seseorang di depan mimbar. Bukannya tak mau, tapi Angie tak bisa.</p>
<p>Gempa yang menghentak-hentak —entah beberapa kali sehari— merobohkan rumahnya. Angie tahu kenapa rumahnya saja yang rebah. Kayu lapuk, paku yang longgar, papan yang bolong, masih banyak yang bisa dijadikan alasan. Angie juga tahu arti bersandarnya pinggang rumah Angie dengan tanah: ia tak bisa minta apa-apa lagi selama puasa. Meskipun untuk cetak beberapa lembar foto berbagai ukuran.</p>
<p>Fio coba Bantu. Tapi, Angie tidak mau. “Kamu telah banyak membantu,” katanya. Fio memaksa, Angie menitikkan air mata. “Fio malu, Fi. Malu,” katanya sedu. Fio menyerah.<br />
Sama menyerahnya dengan shalat zuhur yang (sedang) ia lakukan. Fio terduduk. Meski waktu zuhur telah lewat setengah jam. Tadi, ia sengaja lama-lama di wc agar bisa shalat sendiri. Shalat jemaah akan membuatnya mengembara, menyusun rencana. Sesuatu yang tidak mau ia lakukan saat ini. Shalat jemaah akan membuatnya berandai-andai.</p>
<p>Ia berharap dengan shalat sendiri ia bisa kosentrasi. Hal yang agak mustahil dilkukannnya setelah peristiwa Angie. Bisa melafalkan bahasa Arab di mulut dan artinya dalam hati. Ia mulai terbiasa melakukannya belakangan ini. Kata orang, itu bikin shalat khusuk. Fio mengangguk setelah mencobanya. Namun, hal itu tidak berlaku siang ini. Hatinya terlalu abu-abu. Ia benar-benar tidak tahu lagi, apa yang mesti dilakukan. Sudah dicobanya menyabarkan perasaannya apalagi sedang puasa.</p>
<p>Masih terngiang dalam ingatannya, bentakan instruktur tadi pada Angie. “Dari rumah apa yang kamu pikirkan, ha! Masa membawa foto yang ukurannya kecil saja kamu tidak bisa. Apa yang kamu bisa? Bagaimana kamu dipercaya membawa yang lebih besar?”</p>
<p>Angie mengisak. Fio mau maju. Ini sudah kelewatan, kata Fio dalam hati. Tidak ada kamusnya begini. Lengannya ditahan panitia yang lain. Seorang cewek yang juga kini berada di hadapanku.</p>
<p>“Udah?” tanyanya lembut. Fio hanya bisa memandang wajah lembut itu dengan tegang. Fio menyukainya. Ia lebih tenang dibanding panitia yang lain. Namun hanya ia seorang. Selebihnya membuat kening Fio berkerut.</p>
<p>“Fi?” tanyanya lagi. Fio menggeleng cepat. “Fio mau minum,” katanyo. “Kamu nggak puasa?” Lagi-lagi Fio menggeleng. “Lho?” tanyanya heran. “Tadi, iya,” jelasku. “Kenapa?” burunya. Fio diam. “Yang tadi, ya. Kamu tidak bisa menahan marah. Tidak kosentrasi shalat, lalu menganggap puasamu batal. Begitu?”</p>
<p>Fio hanya diam. Tidak itu saja sebenarnya. Setelah puas Fio batal Fio akan melabrak instruktur itu habis-habisan. Fio akan argument habis-habis dengan dia tentang layak atau tidaknya ia berbuat begitu. Sama sekalai tak layak! kata Fio.</p>
<p>Perempuan dewasa yang berada di depanku itu tersenyum. Ia separo memaksa Fio untuk duduk. Ditatapnya Fio, “Kamu tahu, hal tersulit dari semua ini adalah latihan. Siapa kamu yang mengira puasa kamu batal?” suara itu tidak marah tapi tajam. Menusuk udara. Melingkar-lingkar. Mengurung Fio dalam belitannya.</p>
<p>“Orang yang berharga itu, orang yang ketika jatuh dapat bangkit lagi, Fi? Bukan yang terlena. Siapa yang bisa memastikan shalatnya dapat pahala? Siapa yang bisa memastikan puasanya diterima. Itu rahasia Allah, Fi. Biar saja. Yang bisa dilakukan manusia adalah berusaha. Untuk khusuk. Untuk tawaduk. Jika kamu jatuh di tengah hari, bangkitlah. Jangan lakukan kesalahan yang sama sampai kapan pun.”</p>
<p>Antara kesakitan hati dengan keinginan membela temannya, Fio memilih tertunduk. Kemarahan tidak pernah menyelamatkan apapun. (P’Mails, Edisi 105 Tahun III 23 &#8211; 29 September 2007)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kolomkanan.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kolomkanan.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomkanan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomkanan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kolomkanan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kolomkanan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kolomkanan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kolomkanan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kolomkanan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kolomkanan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kolomkanan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kolomkanan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kolomkanan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kolomkanan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kolomkanan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kolomkanan.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=31&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/09/23/pembelaan-fio/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7137f0cb57e614d73fad590ab1140479?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kolomkanan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mia Repot Sendiri</title>
		<link>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/09/16/mia-repot-sendiri/</link>
		<comments>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/09/16/mia-repot-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Sep 2007 08:59:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kolomkanan</dc:creator>
				<category><![CDATA[alas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomkanan.wordpress.com/2007/09/16/mia-repot-sendiri/</guid>
		<description><![CDATA[AH, pesantren lagi, rutuk Mia dalam hati. Bukan dibuat-buatnya. Yang jadi masalah bagainya adala pertama, kenapa pesantren? Kenapa tidak nama yang lain? Perguruan, misalnya? Kan lebih dekat dengan khasanah Minangkabau. Ia tanya pendapat Rio, anak berambut kriwil itu cuma menjawab, “Tidak bagianku, tidak bagianku.” Benar juga sih, tetangga Mia mulai lahir itu memang jago melukis. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=30&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>AH, pesantren lagi, rutuk Mia dalam hati. Bukan dibuat-buatnya. Yang jadi masalah bagainya adala pertama, kenapa pesantren? Kenapa tidak nama yang lain? Perguruan, misalnya? Kan lebih dekat dengan khasanah Minangkabau. Ia tanya pendapat Rio, anak berambut kriwil itu cuma menjawab, “Tidak bagianku, tidak bagianku.” Benar juga sih, tetangga Mia mulai lahir itu memang jago melukis. Tak ada perhatian lain yang ditujukan selain coret-coret di kertas.</p>
<p><span id="more-30"></span> Masalah lain yang tersekat di ujung hatinya adalah, kenapa acara itu selama bulan Ramadhan? Kenapa tidak belajar saja? Bukankah itu akan mengurangi jam belajar di sekolah? Tidak kurang saja belum tentu semuanya mengerti apalagi dikurangi. Benar?</p>
<p>Ia tanya pada Iman. Cowok pintar dan pendiam (nampaknya karakter itu sulit diubah, Mia sering mimpi ketemu cowok ceriwis tapi oke dalam belajar. Tak ada. Nihil). Iman memandangnya sesaat. ”Kamu ndak kerjaan lain?” tanya Iman. Mengagetkan Mia. Tak biasanya cowok itu ”terasa” ketus. ”Kamu nggak ada pertanyaan lain?” balas Mia. Iman tersenyum. ”Maaf, agak nggak biasanya, ya. Namun, mudah-mudahan menjawab pertanyaanmu,” jawab Iman kalem.</p>
<p>Mia mengkerut. Tidak hanya keningnya tapi hatinya. Akan memakan waktu meladeni Iman kalau sudah ngomong tak berujung ini. Kapan ia jawab pertanyaanku, bisik Mia dalam hati.<br />
”Maksudmu?” tanya Mia hati-hati. ”Lho, aku sudah jawab pertanyaanmu,” kata Iman santai. ”Yang mana, Man?” tanya Mia berusaha sabar. Bukan hanya karena bulan puasa. Ia terlalu banyak perlu dengan Iman. Cowok ini kalau ngambek bisa barabe. Melebihi ngambeknya cewek, kadang-kadang. ”Aku nanya, kamu malah jawab dengan pertanyaan,” ujar Mia lagi.<br />
Iman menatapku, ”Aku sudah menjawab pertanyaanmu, kenapa kamu tidak bertanya seperti aku bertanya padamu, lalu kau kembali tanya padaku?” katanya. ”Man, please, aku sudah pusing. Jangan main-main lagi,” pintaku. Iman kembali menatapku. Lalu pergi. Begitu saja. Aku menghentakkan kaki. Namun, jangan harap Iman berbalik apapun kejadian yang menimpa setelah itu.</p>
<p>Haruskah aku ikut saja? Aku tidak pula ingin begitu saja. Apa alasannya kalau ikut? Mesti kuat. Kalau tidak sepanjang acara aku hanya akan mengomel saja. Tidak baik untuk situasi nanti.</p>
<p>Tidak ada lagi tempat bertanya. Pada Bu Aini, guru agamaku, yang telah berumur hampir 60, rasanya percuma. Hanya nasehat dan nasehat yang akan kudapat. Bertanya pada Ibu atau Ayah aku tidak berani lagi. Pertanyaan mereka akan lebih banyak. Akan ada kekhawatiran. Sesuatu yang kubenci. Akan ada larangan. Mungkin ke voli, olahraga kusukaanku. Hal yang juga kubenci.</p>
<p>***<br />
Di dalam kamar tak ada yang bisa kulakukan selain merenungi perkataan Iman. Aku tahu, selama bulan suci ini banyak teman-teman –kuperhatikan—menjadikannya sebagai bulan ”mainan”. Bagaimana nggak, habis bulan suci ini mereka juga melaksanakan kerjaan-kerjaan yang ter-cancel (istilah yang juga tak kusukai. Karena makin meyakinkanku bahwa teman-teman hanya menahan diri, tidak memperbaiki diri) sebelumnya. Kegiatan-kegiatan yang rasanya tidak menambah apa-apa selain dosa.</p>
<p>Kadang-kadang aku salut juga, kata Mia dalam hati. Salutnya itu pada kemauan teman-temannya menahan diri selama bulan puasa atau tidak terlalu terang-terangan selama bulan puasa.</p>
<p>Aku merasa, percuma saja mengadakan pesantren ini. Tidak ada perbaikan karena banyak aku merasa teman-teman tidak serius menjalankan bulan suci ini?<br />
Tiba-tiba suara Iman melesat dalam kepala Mia. Kenapa kamu tidak bertanya seperti aku bertanya padamu, lalu kau kembali tanya padaku? Main-main itu apa gunanya, tanya Mia lagi. Namun, tergerak juga hatinya melakukan permainan itu. Misalnya, kenapa percuma pesantren ramadhan ini? Apanya yang percuma? Teman-temanku begitu, aku? Bagaimana dengan aku? Sudahlah menjalankan puasa dengan benar? Aku tidak suka ceramah ramadhan, tapi sudahkah aku membuat ceramah yang akan aku sukai?</p>
<p>Pelan-pelan, kepala Mia penuh dengan pertanyaan. Mia tidak menyangka akan begini jadinya. Ia repot sendiri menahan pertanyaan-pertanyaan itu.  Ia repot menjawabnya.<br />
Suatu saat,sesaat sebelum tengah malam, Mia mengeluh, ”Aku capek.” (P’Mails, Edisi 104 Tahun III 16 &#8211; 22 September 2007)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kolomkanan.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kolomkanan.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomkanan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomkanan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kolomkanan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kolomkanan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kolomkanan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kolomkanan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kolomkanan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kolomkanan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kolomkanan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kolomkanan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kolomkanan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kolomkanan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kolomkanan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kolomkanan.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=30&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/09/16/mia-repot-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7137f0cb57e614d73fad590ab1140479?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kolomkanan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bermula dari Simpang Itu</title>
		<link>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/09/09/the-k/</link>
		<comments>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/09/09/the-k/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Sep 2007 09:33:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kolomkanan</dc:creator>
				<category><![CDATA[alas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomkanan.wordpress.com/2007/08/05/the-k/</guid>
		<description><![CDATA[DUA pekerjaan yang kubenci sebelum memasuki bulan puasa: Berkunjung ke makam. Sama tidak sukanya ketika teman-teman sudah nongkrong di depan rumah untuk pergi balimau, sehari sebelum puasa. Apa gunanya! teriakku dalam hati setiap akan memasuki bulan suci itu. Awalnya aku suka. Bahkan aku menanti-nantikannya. Ada rasa terenyuh. Rindu. Apalagi sejak kakak cowokku juga ikut tertanam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=26&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>DUA pekerjaan yang kubenci sebelum memasuki bulan puasa: Berkunjung ke makam. Sama tidak sukanya ketika teman-teman sudah nongkrong di depan rumah untuk pergi balimau, sehari sebelum puasa. Apa gunanya! teriakku dalam hati setiap akan memasuki bulan suci itu.</p>
<p><span id="more-26"></span>Awalnya aku suka. Bahkan aku menanti-nantikannya. Ada rasa terenyuh. Rindu. Apalagi sejak kakak cowokku juga ikut tertanam di areal pendam perkuburan suku ini. Sakit kuning yang terlambat diselamatkan. Stadium empat. Ia baru kelas enam SD. Kenapa? tanyaku waktu itu. Tanya yang hanya membentur langit.</p>
<p>Memasuki SMA aku mulai merasakan ada yang salah. Mulanya ketika mendengar ucapan seorang temanku. “Orang mati tidak bisa mendoakan kita,” katanya santai ketika kutanya kapan ia terkakhir ke perkuburan. Apalagi saat aku tahu itu hanya tradisi, bukan suruhan agama. Kalau mau berkunjung ke makam, kenapa tidak ke makam nabi? Seperti yag dilakukan sebagian orang Afrika ketika berhaji. Tanah yang berhasil digapai dalam selingkaran kuburan nabi terakhir umat dunia itu dibawa pulang untuk dijadikan azimat.</p>
<p>Rasa hormat, alasan ibuku ketika aku mencoba menolak. Bukankah sudah ada dalam doa, jawabku. Rasa hormat yang lain, balasku ibuku lagi. Yang mana, tanyaku. Pada ini, tunjuk ibu pada dadanya. Aku tak ada jawab meski tidak puas.</p>
<p>Itu hanya tradisi Hindu, bantahku dalam hati. Tradisi yang tersisa sebelum masuknya Islam. Tidak ada keharusan. Tidak ada kewajiban.</p>
<p>Setengah hati aku melangkahi nisan-nisan yang bersusun. Kami sekeluarga menuju sebuah sudut. Kulihat sudah menunggu beberapa orang di makam yang juga akan kami kunjungi. Lemas saja tanganku membawa bunga dalam buket. Ibu menyentuh lengan. Mengajak langkah dipercepat.</p>
<p>Tiba-tiba tanganku menegang. Seperti menyentak dari pengangan ibu. Sesaat ibu memandangku heran. Aku menggelengkan kepala kuat-kuat menghindari tuduhannya. Telunjukku menunjuk sekelompok orang. “Yang pakai baju biru,” ujarku. “Kenapa?” tanya Ibu.<br />
Aku menjangkau sekumpulan adegan dalam kepala. Bukankah itu Anda? tanyaku dalam hati. Tidak mungkin tidak. Aku akan mengenalinya meski dalam jarak seratus meter. Gerak tubuhnya, langkahnya sudah kuhapal sampai detil.</p>
<p>Anda, Anda, kenapa ia di sini? Sejanak kepalaku mencari alternatif lain. Tak kutemukan. Oh, tidak. Jangan, ujarku dalam hati. Jangan dia.</p>
<p>Sakit hati masih kurasakan. Teramat sangat. Berrmula dari simpang itu. seorang cowok menabrakku. Seluruh peganganku berhamburan kemana-mana. Ia berhenti sebentar. Memandangku. Lalu, berlalu. Tak pernah kutemukan laki-laki sekurang ajar itu. Aku mengejarnya. Setelah mendebatnya, ia minta maaf. Tapi, dengan gaya kurang ajar dan tetap melanjutkan perjalanan</p>
<p>Kemudian aku tahu, ia satu sekolah denganku. Dengan berbagai alasan, aku membencinya. Tingkahnya makin hari makin memuakan. ”Ia jatuh cinta padamu,” kata Teri, teman sebangkuku. Aku menggelengkan kepala seketika, mengusir bayangan-bayangan klise. ”Bukankah, kerjanya cuma menarik perhatianmu?” alasan Teri lagi, ”Dan kau tahu kenapa. Ya?” Aku tidak menggelengkan kepala lagi. Tapi, perbuatannya sulit kumaafkan. Aku masih ingat bagaimana ia memanggilku, imut. Aku tahu itu singkatan. Tapi, aku tidak berani mengira-ngira artinya. Namun, bisik-bisik teman sampai juga ke telingaku, hItaMUTlak. Aku tidak akan sakit hati kalau yang memanggilnya bukan Anda. Ia melakukannya setelah minta maaf padaku dan berjanji tidak akan mengulangi segala perbuatannya.</p>
<p>Ibu menyentuh lenganku. Aku tersadar. ”Siapa, Bu?” Ibu menyipitkan mata sebentar. ”O, itu Anda,” kata Ibu. ”Maksud Risa, anak siapa, Bu?”. ”Kamu tidak tahu?” Aku menggeleng. ”Itu anak mamakmu. Kenapa?” tanya Ibu. ”Jadi, puluhan tahun ini kami tidak pernah dikenalkan?” keluhku.</p>
<p>Ibu tersentak sesaat. Lalu, berusaha mencari ”apa yang salah”. ”Tidak sebanyak tahun yang kamu bayangkan. Rasanya kalian berteman waktu kecil. Ia sering menganggumu ketika sama-sama di TK dulu. Ingat, ia memanggilmu imut?” terang Ibu (apa yang bisa diingat dari masa kecil?).</p>
<p>Jangan dia, Tuhan, mohonku dalam hati. Terlambat, senyum Anda sekitar sepuluh langkah dari hadapanku. (P’Mails, Edisi 103 Tahun III 09 &#8211; 15 September 2007)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kolomkanan.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kolomkanan.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomkanan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomkanan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kolomkanan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kolomkanan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kolomkanan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kolomkanan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kolomkanan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kolomkanan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kolomkanan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kolomkanan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kolomkanan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kolomkanan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kolomkanan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kolomkanan.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=26&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/09/09/the-k/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7137f0cb57e614d73fad590ab1140479?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kolomkanan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Harus Aku?</title>
		<link>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/09/08/harus-aku/</link>
		<comments>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/09/08/harus-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Sep 2007 08:44:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kolomkanan</dc:creator>
				<category><![CDATA[alas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomkanan.wordpress.com/2007/12/01/harus-aku/</guid>
		<description><![CDATA[“KENAPA AKU?” tanya Meike kepada beberapa wajah yang berada di hadapannya. Wajah-wajah itu, sesaat, hanya saling berpandangan. Kemudian, wajah bulat mirip bayi menandang Meike, “Kami kira hanya kamu yang bisa menandinginya,” kata Kodri, pemilik wajah itu. “Kira…” ulang Meike, “Kenapa?”  “Oh, Mei, kami tidak bisa membayangkan kalau Harun yang menjadi ketos. Kami…” sesaat Kodri memandang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=29&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p ALIGN="justify">“KENAPA AKU?” tanya Meike kepada beberapa wajah yang berada di hadapannya. Wajah-wajah itu, sesaat, hanya saling berpandangan. Kemudian, wajah bulat mirip bayi menandang Meike, “Kami kira hanya kamu yang bisa menandinginya,” kata Kodri, pemilik wajah itu. “Kira…” ulang Meike, “Kenapa?”</p>
<p ALIGN="justify"><span id="more-29"></span> “Oh, Mei, kami tidak bisa membayangkan kalau Harun yang menjadi ketos. Kami…” sesaat Kodri memandang teman-teman yang lain. Semuanya mengangguk, “tidak bisa jadi apa sekolah ini nantinya,” ujar Kodri dengan wajah memelas. “Bagian yang mana? Aku tidak melihat kesalahan dalam program-programnya,” ujar Meike. “Mei, tidak boleh kemping, perpisahan ditentukan acaranya, tidak boleh dance, cheersleader,  apa itu tidak eksalahan.” Kali ini Riska, menggenggam sehelai kertas yang beberapa bagian tersobek ujungnya. Meike yakin, itu buah kemarahan ketua penari sorak itu.0</p>
<p ALIGN="justify">Meike mulai meraba kemana arah pembicaraan teman-temannya. Anak Cerdas kelas dua IPA itu tahu mau teman-temannya. Namun, kali ini Meike menghadapi tembok besar. Ia tahu, majelis guru dan pejabat sekolah berada di belakang ketua kelas dua IPS itu.</p>
<p ALIGN="justify">Sesaat, Meike mengukur situasi. Ia pandangi teman-temannya. “Seberapa serius kalian mau menjadikanku ketos?” tanyanya pada Kodri. “Kami serius Mei. Serius.” Jawab teman SMP Meike itu. “Kod, itu bukan jawaban yang kuinginkan.”</p>
<p ALIGN="justify">Kodri ternganga sedetik. Ia membuka buku catatannya dengan segera, “Mei, maksudku, maksud kami, kami telah menghimpun orang-orang yang akan ikut kampanyemu. Riska juga sudah menyiapkan yel-yel untukmu. Bahkan dalam adu program nanti, ia juga telah menyiapkan sorakan asyik…menurutku. Aku sudah dengar soalnya. Andri sudah siap dengan desain kampanyemu. Aku juga sudah baca. Menarik. Mmm…menurutku…” Kodri masih mencari sesuatu dalam buku catatannya. Meike memandangi teman-teman yang lainnya.</p>
<p ALIGN="justify">“Aku ikut,” kata Meike sambil melangkahkan kakinya keluar kantin. Ia meninggalkan senyum di beberapa wajah.<br />
***<br />
Di rumahnya Meike mengutak-atik komputer. Ia menyiapkan pidato programnya. Ketika tombol titik ditekannya, ia menyandarkan punggung. Pidato itu tidak lebih dari tiga baris.</p>
<p ALIGN="justify">Meike tahu ia tidak akan menang. Dari awal ia menerima amanat teman-temannya hanya untuk menyenangkan hati teman-temannya.</p>
<p ALIGN="justify">Ia sebenarnya suka Harun yang jadi ketua. Tidak ada yang pantas menjadi ketua selain teman sebangkunya kelas satu itu. Selain pintar, Harun juga paham organisasi. Ia juga punya aura untuk bisa menaklukkan teman-temannya. Dengan logika bukan dengan arogansi. Dan yang lebih penting menurut Meike, Harun mengerti dengan psikologi teman-temannya. Bagi Meike, menjadi ketua hal itulah yang penting.</p>
<p ALIGN="justify">Jadi, ia mengerti betul kemampuan Harun. Meike tahu, tanpa didukung mejelis guru pun, Harun akan menang. Semua mendukungnya. Teman-teman Meike yang di kantin tadi hanya tidak suka pada beberapa program Harun. Menurut Meike, untuk hal itu Harun juga sedikit kelewatan walaupun niatnya untuk “membersihakan” sekolah dari hal-hal negatif juga didukung Meike. Tapi menurutnya, tidak secepat itu. Banyak betul “pertempuran” melelahkan yang akan dilalui. Dan membuang energi, menurut Meike. Ia akan telpon Harun untuk hal itu.</p>
<p ALIGN="justify">Untuk menghormati teman-temannya nanti, ia akan menolak jabatan apapun yang ditawarkan harun. Harun sudah mmberikan sinyal beberapa ahri yang lalu. Meike sudah siapkan jawabannya, “aku mendaftar untuk jadi ketua bukan yang lain.”</p>
<p ALIGN="justify">Dibacanya kembali apa yang terketik di komputer. Saya tidak menganjurkan untuk memilih saya. Tapi pilihlah sesuai hati nurani teman-teman semua. Jika saya tidak sesuai, jangan pilih.</p>
<p ALIGN="justify">Menurut Meike, beberapa kata masih terasa keras. Ia akan melembutkannya lagi, agar tidak ketahuan maksud sebenarnya. Ia tidak mau dianggap pengkhianat oleh teman-temannya, tapi juga tidak mau terpilih. Walau sekaranglah kesempatan itu.</p>
<p ALIGN="justify">Meike beranjak dari tempat duduknya menuju ruang tamu. Setelah menghela nafas sesaat, ia mengambil gagang telepon dan menekan beberapa nomor. (P’Mails, Edisi 102 Tahun III &#8211; 08 September 2007)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kolomkanan.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kolomkanan.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomkanan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomkanan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kolomkanan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kolomkanan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kolomkanan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kolomkanan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kolomkanan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kolomkanan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kolomkanan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kolomkanan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kolomkanan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kolomkanan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kolomkanan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kolomkanan.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=29&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/09/08/harus-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7137f0cb57e614d73fad590ab1140479?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kolomkanan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Satu-satunya SMS pada Hari Itu</title>
		<link>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/08/19/satu-satunya-sms-pada-hari-itu/</link>
		<comments>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/08/19/satu-satunya-sms-pada-hari-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 05:41:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kolomkanan</dc:creator>
				<category><![CDATA[alas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomkanan.wordpress.com/2007/08/19/satu-satunya-sms-pada-hari-itu/</guid>
		<description><![CDATA[Besok, besok, besok, ulang Tia tanpa sadar. Ia gelisah. Tekanan katanya cemas. Dalam pikirannya berkecamuk beberapa adegan. Saling berhimpitan. Nafasnya sedikit sesak karenanya. Sebulan yang lalu, Meri ulangtahun. Tia sedikit mengatupkan matanya. Ia ingin membayangkan detil kejadian. Cewek berbadan tipis itu dikarungkan kepalanya sekeluar dari WC. Ia dibawa dengan bentakan-bentakan. Teman sekelas Tia itu sampai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=28&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Besok, besok, besok, ulang Tia tanpa sadar. Ia gelisah. Tekanan katanya cemas. Dalam pikirannya berkecamuk beberapa adegan. Saling berhimpitan. Nafasnya sedikit sesak karenanya.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span id="more-28"></span>Sebulan yang lalu, Meri ulangtahun. Tia sedikit mengatupkan matanya. Ia ingin membayangkan detil kejadian.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Cewek berbadan tipis itu dikarungkan kepalanya sekeluar dari WC. Ia dibawa dengan bentakan-bentakan. Teman sekelas Tia itu sampai pipis di celana. Ia diajak berkeliling sekolah. Tia yang ikut dalam ”penculikan” itu berusaha membekap mulut sekuat-kuatnya agar tawa tidak tersembur.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Rencana ini sudah disusun Tia selama seminggu. Awalnya ia bingung. Beberapa rencana diolahnya. Namun menjelang Hari ”H”, ia belum menemukan yang pas. Ia memutuskan untuk memilih rencana ”K” dari A-Z yang direncanakannya.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Tia juga ingat ultahnya Teti, Rizki dan Mulan. Semua mengatakan salut atas rencananya. Perfect.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">***</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Tia tidak hanya gelisah hari ini. Ia sudah mulai resah seminggu yang lalu. Ia tidak bisa membayangkan ”upacara” macam apa yang akan dilakukan oleh teman-temannya. Ia<span>  </span>mulai mengira siapa ”kepala adat ritual”nya. Boban atau Septi. Atau teman-teman yang pernah dikerjainya?</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Belakangan ini beberapa orang tiba-tiba terdiam kalau Tia datang. Begitu juga ketika Tia ke kafe atau pustaka. Sekelas seperti mau mengerjainya.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Tia tidak takut sebenarnya. Terserah apa saja ”pembalasan” yang mesti ia terima. Namun, sisi lain juga tidak bisa begitu. Ia ingin segala sesuatu berjalan rencananya. Jika ada gerakan yang tak terduga, Tia langsung naik spanning. Ada yang menggelegak dalam dirinya. Siapa saja akan kena pelototan mata. Tidak peduli apakah Ketos atau murid biasa. Beberapa guru juga pernah dilawan ”pikirannya”.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Ia orang penuh perhitungan. Tidak ada yang boleh meleset dari daftar kerja yang telah diberikan. Haram improvisasi. Bagi Tia, gerakan mendadak merusak genetis kerja. Tak ada ilmu katak dalam kamusnya. Ingat, lalu loncat. Tia tidak suka itu.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Cewek berbadan bongsor itu takut, kalau perayaan yang dilaksanakannya pada dirinya akan merusak harinya. Bukankah aku bisa mengosongkan kegiatan untuk besok? tanya Tia dalam hati. Namun, ia menggelengkan kepala mengingat jadwal besok. Labor, mid semester, rapat acara basket, dan&#8230;tidak datang ke sekolah besok menjadi urutan terakhir dalam rencananya.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Jauh di hati kecilnya ada yang bergesek. Mungkinkah aku tidak suka ulang tahun? Peringatan apa itu sebenarnya? Kalau kelahiran, tepatkah? Tepat secara bulan atau tahun bahkan harinya? Ia tidak yakin.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Kalau masehi, setiap orang minimal berbeda satu hari dalam sekali empat tahun. Hijriah apalagi akan sulit menghitungnya. Tidak biasa.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Jadi apa? Selebrasi karena kita lahir? Bukankah umur makin pendek karenanya?</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Tia tidak menemukan jawaban. Tapi ia akan datang esok pagi.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">***</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Sekolah masih lengang ketika Tia menginjakkan kakinya di dalam kelas. Namun, ia bukan orang yang pertama. Tia jadi kaget. Ia lah biasanya menjadi orang pertama yang bernafas dalam kelas itu. Sudah mulai rupanya, batin Tia.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Murti, orang yang mendahului Tia, tersenyum. Tia balas sedikit. Matanya masih jelalatan mencari kemungkinan.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Sampai di situ saja. Menjelang siang, tidak ada kejutan yang didapatnya. Ataukah ini kejutannya: Tidak ada kejutan!</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Semua berjalan apa adanya. Semuanya berjalan wajar-wajar saja. Normal. Meski dirasa Tia telalu normal.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Sampai malam, Tia bahkan tidak mendapatkan satu pun selamat ulang tahun. entah kenapa, di sudut hatinya ada sesal mulai menumpuk, kenapa ia terlau waspada dalam segala hal.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Pada detik ketika matanya akan terkatup, hp-nya berbunyi. Sesaat Tia termenung. Lalu, menjangkau dan menenkan beberapa tombol. Tia kembali termangu di depan tulisan selamat ulang tahun. Dari nomor yang tidak diketahuinya. Sesaat kemudian, sebuah senyum tersungging dari bibirnya. (P’Mails, Edisi 100 Tahun II 19 &#8211; 25<span>  </span>Agustus 2007)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kolomkanan.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kolomkanan.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomkanan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomkanan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kolomkanan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kolomkanan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kolomkanan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kolomkanan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kolomkanan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kolomkanan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kolomkanan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kolomkanan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kolomkanan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kolomkanan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kolomkanan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kolomkanan.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=28&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/08/19/satu-satunya-sms-pada-hari-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7137f0cb57e614d73fad590ab1140479?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kolomkanan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bertiga atau Berempat, Apa Salahnya?</title>
		<link>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/08/12/bertiga-atau-berempat-apa-salahnya/</link>
		<comments>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/08/12/bertiga-atau-berempat-apa-salahnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Aug 2007 05:35:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kolomkanan</dc:creator>
				<category><![CDATA[alas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomkanan.wordpress.com/2007/08/12/bertiga-atau-berempat-apa-salahnya/</guid>
		<description><![CDATA[“Jangan!” teriak Diana tiba-tiba ketika aku akan jariku sudah berada di tombol on. Tanganku tertahan di kamera. “Jangan,” ulang Diana. Aku memandangnya. Dari jauh Ria, Agnes dan Dolli masih bergaya menunggu jepretanku. Segera, ia merampas kamera itu dari tanganku. Wajahnya terlihat antara sedih dan takut. Sekali lagi aku memandangnya. Mendekatinya. “Ada apa?” tanyaku. “Pokoknya jangan,” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=27&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">“Jangan!” teriak Diana tiba-tiba ketika aku akan jariku sudah berada di tombol <em>on</em>. Tanganku tertahan di kamera. “Jangan,” ulang Diana. Aku memandangnya. Dari jauh Ria, Agnes dan Dolli masih bergaya menunggu jepretanku.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span id="more-27"></span>Segera, ia merampas kamera itu dari tanganku. Wajahnya terlihat antara sedih dan takut. Sekali lagi aku memandangnya. Mendekatinya. “Ada apa?” tanyaku. “Pokoknya jangan,” suara Diana bergetar. Ketiga teman lain yang gagal nampang di bibir pantai mendekat ke arahku.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">“Mana?” tanya Agnes. Aku mengangakt bahu. Mataku menunjuk ke arah Diana yang masih memegang kamera. Ria mendekat. “Kenapa, Na?” tanya Ria lembut. “Jangan bertiga fotonya. Jangan,” ujar Diana dengan suara yang masih bergetar. “Iya, kenapa?” ulang Dolli yang juga udah sampai di samping Diana. “Pokoknya jangan.” Diana makin erat mendekap kamera digital merk terkenal itu. Agnes nggak sabaran, menjangkaukan tangannya ke arah kamera. Sekali lagi, tiba-tiba Diana berteriak kuat. Refleks, Agnes menghentikan gerakannya. Terkejut. Heran.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">“Baik. Baik. Bagaimana kalau berempat. Kamu yang memotret. Gimana?” tawarku sambil memegang tangan Agnes. Dengan isyarat, aku mengajak yang lain untuk mengangguk. Wajah tegang Diana berangsur berubah melihat yang lain juga setuju dengan rencanaku. Ia tampak lebih tenang.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Kami mundur ke tepi laut. Dengan wajah bercampur-campur dua-tiga emosi sekaligus, foto-foto di tepi laut itu usai juga. Agnes mesti meyakinkan Diana terlebih dahulu untuk melanjutkan foto gaya modelnya. Tapi, anehnya di antara kami tidak ada yang berfoto bertiga sampai acara itu selesai. Baru kali ini waktu santai dilewati dengan hambar.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">***</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Duduk-berdiri perkaranya baru kudapat keesokan harinya. Diana menjelaskan padaku dengan suara pelan (sampai aku mengira ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun) di sudut pustaka.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">“Aku trauma. Aku trauma,” ulangnya. Aku mencoba memberi isyarat dengan mata bahwa aku tidak mengerti. Takut suaraku mengalahkan heningnya pustaka. “Dua kali, Mon. Dua kali.” Aku kembali mengendikkan bahu. Kali ini dengan gerakan yang tidak sabar. Diana mengambil nafas. “Ketika kecil aku…maksudnya kami, aku dan dua temanku pernah berfoto bertiga. Tapi…, Lia, temanku itu meninggal tak lama kemudian. Sewaktu perpisahan kelas tiga SMP, aku juga befoto dengan dua teman akrabku, ia juga…” Diana tak mau melanjutkan ucapannya. “Itu… kebetulan, Diana,” bisikku tidak mau menggunakan kata “bodoh” untuk kata “kebetulan”.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Ia termenung. Lalu, sesaat kemudian menggeleng. “Kenapa mesti dua kali?” tanyanya menatap wajahku. Aku juga terdiam. “Dan tidak ada kebetulan di dunia ini, kan?” aku terhenyak.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Sampai di rumah aku masih memikirkan kata-kata itu. Sesekali aku mengucap syukur karena Diana telah menyelamatkan hidup temannya. Namun, aku merasa ada yang salah. Kenapa mesti takut berfoto bertiga? Tidak ada bedanya kulihat kalau seandainya berfoto berempat. Apa salahnya bertiga…berempat?</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Namun, soal yang lebih besaar bagaimana menjelaskannya pada Diana tanpa membuatnya lebih ketakutan. Ia anak yang sensitif sekali. Percaya dengan apa yang dialaminya. Pandanganku membentur sebuah album foto.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Kudatangi ia esoknya dengan setumpuk foto. Satu-persatu, Diana membalik foto-foto itu. Sesekali ia memandangku. “Kamu benar. Tidak ada kebetulan di dunia ini.” Kali ini ia yang memberi isyarat tidak mengerti. “O, ya, semuanya bertiga, kan? Ini sudah meninggal. Ini meninggal berdua. Yang ini malah semuanya,” kataku sambil menunjuk-nunjuk beberapa foto. “Tapi, yang ini, ini, ini, masih baik-baik saja. Mereka masih tersenyum seperti dalam foto ini? Sampai hari ini.”</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">“A…apa maksudmu?” Aku mengentakkan foto-foto itu dari tangannya. “Semua itu takdir. Dan itu bukan punya kita. Kamu tahu, kan? Jadi hentikan kebodohan itu. Maaf, aku mesti memakainya. Aku mau kamu hidup tanpa ketakutan-ketakutan itu. Kita akan lebih baik tanpa itu. Ok?”</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Ia menunduk. Perlahan, tangannya memilih beberapa lembar foto. Ia menadangku, “Boleh kumiliki?” (P’Mails, Edisi 99 Tahun II 12 &#8211; 18<span>  </span>Agustus 2007)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kolomkanan.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kolomkanan.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomkanan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomkanan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kolomkanan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kolomkanan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kolomkanan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kolomkanan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kolomkanan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kolomkanan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kolomkanan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kolomkanan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kolomkanan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kolomkanan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kolomkanan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kolomkanan.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomkanan.wordpress.com&amp;blog=2142643&amp;post=27&amp;subd=kolomkanan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomkanan.wordpress.com/2007/08/12/bertiga-atau-berempat-apa-salahnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7137f0cb57e614d73fad590ab1140479?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kolomkanan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
